Upaya Membangun Sumba

Bookmark and Share

Lahir di Solor, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 61 tahun lalu, hampir separuh hidupnya dihabiskan di Sumba, lebih tepatnya Waikabubak, Sumba Barat. Cyprianus Menti Leyn telah jatuh cinta pada Sumba, pada penduduk, kebiasaan, dan kebudayaannya.

Sumba itu berbeda dari Flores. Orang sering mengasosiasikan Flores itu kering dan tandus, begitu juga Sumba. Ini salah, yang benar Flores lebih kering dari Sumba. Sumba lebih subur dari Flores,” kata Pater Cypri, panggilannya.

Cypri adalah pastor biarawan anggota Kongregasi Redemptoris (CSsR). Di luar kebiasaan kongregasi, ia baru masuk novisiat setelah ditahbiskan sebagai diakon dan menjadi pastor tahun 1980.

Setahun sebagai pastor paroki di Waingapu, Sumba Timur, ia lantas berkarya di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Ia tinggal di sini jauh sebelum Sumba Barat dimekarkan menjadi tiga kabupaten, yakni Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, dan Sumba Barat, pada 2007.

Awalnya Cypri melakukan pemberdayaan masyarakat lewat kerajinan tenun Sumba, terutama bagi kaum perempuan. Untuk kaum muda Sumba, dia memberikan pelatihan keterampilan pertukangan dan permesinan. Belakangan mereka pun mempelajari usaha simpan pinjam koperasi kredit.

Baginya, membangun Sumba berarti memberdayakan orang Sumba sendiri. Caranya, dengan mengubah cara berpikir, mendinamisasi kultur yang sudah dihidupi nenek moyang sebagai warisan turun-temurun, serta mengajak mereka berpikir lebih kritis dan ekonomis tanpa meninggalkan sisi budayanya yang positif.

Satu di antara kebiasaan turun- temurun orang Sumba adalah memotong babi atau kerbau setiap ada saudara atau keluarga yang meninggal dunia. Sisi positif dan negatif kebiasaan ini dia kenali betul lewat pergaulan dengan warga Sumba, bukan dari buku-buku rujukan.

Pelan-pelan kebiasaan itu dia arahkan pada tujuan lebih positif dan ekonomis tanpa meninggalkan sisi positif kekerabatannya. Awalnya tak mudah sebab Cypri adalah pendatang.

Anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan Silvester Wulu Leyn dan Mariana B Raralalor ini mengarahkan warga lewat contoh langsung. Ia memelihara babi, berkebun, dan menukang untuk menumbuhkan motivasi mereka.

Pada saat bersamaan, ia rajin menyambangi warga tanpa membedakan agama, keadaan ekonomi, ataupun kedudukan seseorang. Jadilah dia diterima sebagai bagian dari orang Sumba.

Keterampilan

Cypri berusaha berbicara dengan warga dari hati ke hati. Ia membiarkan warga sendiri yang akhirnya menyadari kelebihan dan kekurangan mereka. Saat membina para petenun, misalnya, ia lakukan lewat kelompok-kelompok.

Di sini ia tak hanya memperkenalkan motif baru yang disukai turis, tetapi juga melatih mereka dengan keterampilan menjual. Tujuannya agar perajin tak menjadi sapi perah para pengumpul atau tengkulak.

Untuk latihan keterampilan kaum muda, sejak tiga tahun lalu lembaga yang dipimpinnya, Delegatus Sosial Keuskupan Weetebula, bekerja sama dengan Akademi Teknik Mesin Industri Solo menyelenggarakan kursus keterampilan mekanik perkakas, ADCC-ATMI Delsos Competency Centre, di Waikabubak.

”Satu angkatan pesertanya 30 orang. Dulu ATMI menjadi instruktur kami, sekarang kami sendiri punya instruktur,” kata Cypri.

Namun, para instruktur rupanya tak mau berlama-lama tinggal di pedalaman Waikabubak. ATMI tak lagi mengirim instruktur. ”Ya tidak apa- apa, sudah ada sejumlah instruktur asli orang Sumba,” katanya.

Kursus keterampilan itu sudah menghasilkan tiga angkatan. Delsos Keuskupan Weetebula juga bekerja sama dengan World Vision Indonesia (WVI) yang membiayai peserta sebesar Rp 7,5 juta per orang selama enam bulan.

Peserta tinggal di asrama Wisma Delsos di pinggiran Waikabubak, yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya. ”Peserta harus lolos tes mengingat besarnya jumlah peminat. Kini, banyak alumni yang bekerja di berbagai kota,” kata Cypri.

Masalah timbul tahun 2012 sebab WVI tidak lagi menyediakan beasiswa. Delsos Keuskupan Weetebula pun tak punya dana. Akibatnya, kursus keterampilan mekanik perkakas terhenti. Sementara kegiatan lain, seperti pertukangan kayu dan kursus koperasi kredit (kopdit), terus berlangsung. Selain itu, mereka juga menerima order karoseri dan bengkel untuk umum.

Kopdit yang diperkenalkan Cypri tiga-empat tahun lalu itu kini menjadi kopdit terbesar di Sumba. Disebut Kopdit Merandiate, koperasi di Weepatando, Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, ini, menurut ketuanya, Andreas, kini beranggotakan 3.775 orang. Aset salah satu dari sekitar 4.000 kopdit di Sumba ini hampir Rp 5 miliar.

Kopdit yang berprinsip ”saya susah saya bantu, saya susah kamu bantu” atau ”oleh anggota untuk anggota” ini bisa dikatakan menjadi tulang punggung kemandirian masyarakat. Lewat koperasi, warga dibiasakan menabung. Bukan sebaliknya, meminjam dulu baru menabung.

Obsesi

Sejak masa perkenalan calon biarawan Redemptoris tahun 1971 di Weetebula, Cypri mengaku terobsesi memberdayakan masyarakat Sumba. Dia tak ingin Sumba dilalaikan penghuni dan pemiliknya.

Alasannya, dia telah jatuh cinta pada tanah dan budaya Sumba. Apalagi ada dua sumber mata air alam yang deras mengalir sepanjang tahun di Waikelosawah dan Waikelopan, keduanya di Sumba Barat Daya. Semua itu membuat Sumba Barat menjadi lumbung padi bagi Sumba.

”Kekayaan alam Sumba itu perlu disyukuri dan dikembangkan,” ujar Cypri yang menganggap Sumba sebagai tanah kelahiran keduanya.

Kalau kain tenun Flores dan Sumba, bagi Cypri, setara keindahannya, tidak demikian kondisi alamnya. Bercocok tanam di Solor, Flores, tanah kelahirannya, orang harus bekerja sangat keras.

”Bisa dibilang, untuk bertahan hidup, singkong saja harus berebut tanah dengan batu. Tetapi, di Sumba Barat sebaliknya, segala jenis tanaman tumbuh subur dan menghasilkan,” ujarnya.

Cypri mengibaratkan pekarangan orang Solor itu laut, sedangkan pekarangan orang Sumba Barat adalah tanah yang subur. Itu pun masih dilengkapi pantai yang belum dikembangkan sebagai obyek wisata, yakni pantai Marosi di Kecamatan Lamboya, Sumba Barat, dan pantai Kodi di Sumba Barat Daya.

”Tunggu sekitar 10 tahun lagi, Sumba pasti akan berbeda dari sekarang. Bahkan Sumba Barat nanti tak kalah dari Jawa Barat, kawasan yang subur di Pulau Jawa,” kata Cypri meyakinkan.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar