Pencinta Benteng Lohayong "Bingung"

Bookmark and Share

SOLOR, KOMPAS.com - Para pencinta dan pemerhati benteng Lohayong di Solor, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, tampak bingung dan seakan tak percaya dengan kondisi benteng yang disebut "port Henricus" itu. Puing puing benteng berserakan di bibir pantai, di bukit, dan hancur berantakan di samping rumah warga. Tiga unit meriam ditutupi semak semak belukar. Bongkahan campuran beton itu pun sebagian berada diantara semak semak.

Tidak perlindungan dan perhatian pemerintah terhadap benteng peninggalan Portugis yang didirikan tahun 1500-an itu. Alek Sangkono (54) salah satu pengunjung benteng di Kalike, ibu kota Kecamatan Solor Selatan, Pulau Solor, Sabtu (16/6/2012) mengatakan, meski tidak terawat dan hancur berantakan tetapi terus dilakukan pungutan oleh Pemdes setempat dengan alasan peraturan desa.

"Saya dipungut Rp 30.000 karena sebagai pengunjung lokal. Tapi turis asing kata kepala desa setempat sekitar Rp 200.000 - Rp 300.000 per orang. Ini rasanya aneh. Pungutan itu untuk apa, kalau kondisi benteng hancur berantakan dan ditutupi hutan seperti itu," kata Sangkono.

Ia meminta pemerintah daerah setempat memberi perhatian terhadap benteng itu karena merupakan bagian dari sejarah "Semana Santa" dan wisata religius di daratan Flores. "Sejarah tetap sebagai sejarah. Fakta sejarah jangan dihilangkan. Anak cucu bangsa Solor ingin menyaksikan juga benteng itu. Jangan tinggalkan peninggalan sejarah penying itu , tanpa fakta," katanya.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar