Remy Silado: Puisi Harus Bisa Mencerahkan Pembaca

Bookmark and Share
KENDAL, KOMPAS.com - Penyair mbeling Remy Silado mengatakan, sekarang ini banyak penyair yang puisi-puisinya tidak memberi apa-apa kepada pembacanya.
Bahkan ia menyebut penyairnya terkesan 'onani'. Menurut dia, seharusnya, puisi itu memberi pengharapan dan pengetahuan kepada yang membacanya meskipun puisi itu terkesan mbeling.
"Sehingga setiap pembaca yang membaca puisi, bisa mendapat pencerahan," kata Remy Silado, di sela-sela acara dialog sastra di Pondok Maos Guyub, Bebengan, Boja, Kendal, Rabu (2/5/2012) malam kemarin.
Dalam kesempatan itu, lelaki kelahiran Maskasar, 15 Juli 1945, dengan nama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong ini menambahkan, penyair juga seharusnya rajin membaca sehingga mempunyai banyak kata-kata. Pasalnya, puisi tidak lepas dari kata-kata.
"Banyak penyair sekarang yang bingung mencari kata, sehingga ketika membuat puisi, memakai tanda baca seperti tanda tanya sampai sepuluh," jelas pria berambut putih yang juga dikenal sebagai seorang budayawan, pengamat dan novelis ini.
Puisi, kata Remy, sebaiknya seperti puisi Jawa Kuno yang berisi kaweruh. Di antaranya puisi-puisi milik Ronggo Warsito.
Dialog sastra bersama Remy Silado yang dimoderatori oleh Ester Maharani ini, sekaligus sebagai penutup rangkaian acara Parade Obrolan Sastra V, yang dimulai pada tanggal 26 April dan diselenggarakan oleh Komunitas Lerengmedini Boja bekerja sama dengan milis Apresiasi Sastra (Apsas), di Pondok Maos Guyub, Bebengan, Boja.
Selain Remy Silado, beberapa sastrawan nasional yang akan hadir yakni, penyair Iman Budhi Santosa (Yogyakarta) dan cerpenis Dwicipta (Pemalang). Selain itu juga akan hadir Sigit Susanto, petualang asal Boja yang tinggal sementara di Swiss.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar