Naikkan Harga Gas, PGN Klaim Tak Ambil Untung

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2008/12/05/60465_seorang_pekerja_menyusun_tabung_gas_3_kg_di_tangerang__banten__300_225.jpg

VIVAnews - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) memastikan tidak mengambil keuntungan dengan kenaikan harga jual gas di pasaran. Kenaikan biaya operasional yang mencapai 200 persen menjadi pertimbangan kenaikan harga itu.

"Tidak mengambil keuntungan dari adanya penyesuaian (kenaikan) harga tersebut," kata Direktur Utama PGAS, Hendi Prio Santoso, dalam konferensi pers, di Hotel Ritz Carlton, SCBD, Jakarta, Selasa 22 Mei 2012.

Dijelaskan Prio Santoso, tidak benar bila ada unsur profit dari kenaikan harga gas. Sebagaimana diketahui pada 14 Mei lalu, perseroan memutuskan menaikkan harga jual gas ke konsumen di wilayah Jawa bagian barat hingga 50 persen. Harga jual gas naik dari US$6,7 per MMBTU menjadi US$10,2 per MMBTU.

Direktur Manajemen Risiko dan Perencanaan Investasi PGAS, Wahid Sutopo menyampaikan, PGAS saat ini sedang melakukan sosialisasi mengenai kenaikan harga gas pada para konsumen di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Palembang. Penyesuaian harga itu diberlakukan terhadap konsumen mulai 1 Mei 2012.

Saat ini PGN memiliki 983 pelanggan komersial dan 845 pelanggan manufaktur pada empat wilayah itu. Adapun total pasokan gas ke seluruh konsumen di wilayah itu mencapai 542 miliar british thermal unit per hari (BBTUD).

"Kenaikan harga ini untuk menyesuaikan dengan kenaikan harga beli gas dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas," kata dia.

Ajak dukung konversi

Sementara itu, PGN mengajak seluruh stakeholder atau pengguna gas untuk mendukung program pemerintah dalam hal konversi BBM ke BBG. "Memang banyak yang mengeluh, tapi saya ingin ajak stakeholder untuk dukung program pemerintah," kata Hendi.

Menurutnya hal tersebut patut dilakukan lantaran lebih banyak gas dalam negeri yang diekspor dengan harga jual yang tinggi. Dan diharapkan, kebutuhan gas dalam negeri bisa diserap dan terpenuhi.

"Di ekspor ke Singapura misalnya. Kalau diekspor harganya US$14-15 per mmbtu," ungkapnya. (umi)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar