Reaktor Nuklir Tutup, Ribuan Warga Tokyo Lega

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/10/17/78074_pembangkit_nuklir_300_225.jpg
VIVAnews - Ribuan penduduk Tokyo turun ke jalan dengan penuh suka cita setelah pemerintah Jepang menutup reaktor nuklir terakhir, yang terletak di Hokkaido, dari sekitar 50 pembangkit yang tersebar di seluruh negeri.
Tindakan pemerintah itu membuat Jepang kini tak lagi dialiri listrik bertenaga atom untuk kali pertama sejak tahun 1970. Tentu saja tak untuk selamanya.  
Ancaman utama yang dapat mencekik Jepang adalah kekurangan pasokan listrik. Namun, para pengunjuk rasa berkeras seluruh reaktor nuklir harus ditutup secara permanen.
Pemeliharaan rutin atas pembangkit-pembangkit yang sudah ditutup masih berjalan. Namun, tak ada satu pun reaktor nuklir di Jepang telah beroperasi kembali dalam 12 bulan terakhir.
"Ini hari bersejarah," seorang aktivis bernama Masashi Ishikawa berorasi di tengah massa, seperti dikutip dari laman The Independent, "ada banyak pembangkit tenaga nuklir [di negeri ini], tapi tak satu pun diaktifkan. Ini berkat upaya kita semua."
Para juru protes menyatakan pembangkit nuklir terakhir itu dinonaktifkan tepat ketika Jepang memperingati Hari Anak Nasional. Selama ini, menurut mereka, anak-anak telah terlampau kerap terpapar radiasi dari sejumlah reaktor.
Meski pasokan energi sepenuhnya bergantung kepada minyak dan gas, langkah penutupan harus diambil guna menguji ketahanan reaktor-reaktor nuklir itu dari gempa bumi dan tsunami.
Sebelum bencana, Jepang bersandar pada tenaga nuklir demi memenuhi sepertiga kebutuhan listrik.
Menteri Perdagangan Jepang, Yukio Edano, serta tiga menteri lain, telah berusaha memenangkan dukungan dari masyarakat untuk membuka kembali dua reaktor milik Kansai Electric Power di Ohi. Upaya itu ditempuh untuk mengurangi dampak kekurangan pasokan listrik sebanyak 20 persen.
Jepang tercatat bebas dari pembangkit tenaga nuklir untuk kali terakhir pada tahun 1970. Ketika itu, dua reaktor yang berfungsi ditutup dalam rangka pemeliharaan biasa. (umi)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar