Menkeu Batalkan Utang Bank Dunia US$2 Miliar

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/03/17/67601_nasabah_menukar_uang_dolar_di_bank_korea__seoul_300_225.jpg
VIVAnews - Pemerintah Indonesia tidak akan memperpanjang komitmen utang yang telah disepakati antara Indonesia dan Bank Dunia pada 2009 lalu. Total komitmen yang dibatalkan itu besarnya mencapai US$2 miliar.

Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo menjelaskan pembatalan ini terkait mulai mantapnya perekonomian Indonesia.

"Karena tidak ada masalah secara umum, kita tidak akan teruskan," kata Agus di DPR, Rabu 20 Oktober 2010.

Seperti diketahui pada 2009 lalu, pemerintah Indonesia mendapatkan total komitmen pendanaan pinjaman siaga senilai US$5,5 miliar dolar dari beberapa lembaga multilateral seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), Pemerintah Jepang, dan Pemerintah Australia.

Pendanaan ini disiapkan mengingat paska krisis 2008 lalu, sumber likuiditas semakin ketat. Karena itulah Indonesia mendapatkan komitmen dari berbagai lembaga multilateral untuk sumber pinjaman luar negeri.

Menurut Agus, karena kondisi ekonomi mulai stabil dan Indonesia mulai kebanjiran dana asing, komitmen pinjaman siaga ini tidak lagi akan diteruskan. Meski demikian, kerja sama dengan negara-negara dan lembaga multilateral yang ada tetap dijaga.

"Kami berharap meski tidak diteruskan, kerjasama yang serupa bisa terus dipertahankan," kata Agus.

Pinjaman siaga yang tidak akan ditarik itu yakni dari Bank Dunia senilai US$2 miliar, Pemerintah Australia US$1 miliar, Pemerintah Jepang US$1,5 miliar, dan ADB yang memberikan komitmen pinjaman US$1 miliar.

"Ini (komitmen pinjaman siaga) sebagian besar tidak ditarik meski ada yang telah bayar komitmen fee," kata Agus.
VIVAnews - Pemerintah Indonesia tidak akan memperpanjang komitmen utang yang telah disepakati antara Indonesia dan Bank Dunia pada 2009 lalu. Total komitmen yang dibatalkan itu besarnya mencapai US$2 miliar.

Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo menjelaskan pembatalan ini terkait mulai mantapnya perekonomian Indonesia.

"Karena tidak ada masalah secara umum, kita tidak akan teruskan," kata Agus di DPR, Rabu 20 Oktober 2010.

Seperti diketahui pada 2009 lalu, pemerintah Indonesia mendapatkan total komitmen pendanaan pinjaman siaga senilai US$5,5 miliar dolar dari beberapa lembaga multilateral seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), Pemerintah Jepang, dan Pemerintah Australia.

Pendanaan ini disiapkan mengingat paska krisis 2008 lalu, sumber likuiditas semakin ketat. Karena itulah Indonesia mendapatkan komitmen dari berbagai lembaga multilateral untuk sumber pinjaman luar negeri.

Menurut Agus, karena kondisi ekonomi mulai stabil dan Indonesia mulai kebanjiran dana asing, komitmen pinjaman siaga ini tidak lagi akan diteruskan. Meski demikian, kerja sama dengan negara-negara dan lembaga multilateral yang ada tetap dijaga.

"Kami berharap meski tidak diteruskan, kerjasama yang serupa bisa terus dipertahankan," kata Agus.

Pinjaman siaga yang tidak akan ditarik itu yakni dari Bank Dunia senilai US$2 miliar, Pemerintah Australia US$1 miliar, Pemerintah Jepang US$1,5 miliar, dan ADB yang memberikan komitmen pinjaman US$1 miliar.

"Ini (komitmen pinjaman siaga) sebagian besar tidak ditarik meski ada yang telah bayar komitmen fee," kata Agus.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar