Kanker Payudara Narti Sudah Stadium Lanjut

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2012/04/30/153126_narti-tak-berdaya-karena-sakit-kanker-payudara_300_225.jpgVIVAnews - Sudah tiga minggu Narti tergolek lemah di kasur tipis di atas lantai tanah berlapis terpal di rumah kontrakannya yang terletak di Jalan Tambak Asri Dahlia 1/16 RT 27 RW 06 Surabaya Utara, Jawa Timur. Payudaranya bolong, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.

dr Agus Ali Fauzi, ahli perawatan paliatif dan bebas nyeri menyebut, kanker yang diderita perempuan 49 tahun itu sudah stadium lanjut. Ganasnya kanker di payudara Narti mungkin sudah menyebar ke organ lain. "Jadi dimungkinan sudah stadium lanjut," kata Agus Ali Fauzi, kepada VIVAnews.com, Selasa 1 Mei 2012.

Meski tak dirawat di rumah sakit, ia mengaku, Narti berada dalam perawatan tim dokter paliatif. "Penanganannya dilakukan secara holistik, interdisipliner, multiprofesional dan berkesinambungan dengan perawatan paliatif homecare," kata dia.

Dia menjelaskan, dari sisi fisik, luka Narti dirawat, dihilangkan rasa nyerinya. Sementara dari faktor psikologis, ia ditingkatkan semangatnya. Jangan sampai cemas dan sebisa mungkin meningkatkan kualitas hidupnya dan tenang. Untuk sisi spiritual, Narti harus dipersiapkan supaya tenang dan tawakal kepada Allah SWT.

Ditambahkan, kunjungan ke rumah pasien dilakukan terjadwal oleh tim dokter Paliatif. Dan, untuk kunjungan berikutnya, terang dokter Agus, akan dilakukan Kamis lusa.

Kanker di tubuh Narti sudah ada sejak dua tahun lalu, awalnya mirip bisul. Buruh kasar tersebut tak terlalu menggubris dan tetap meneruskan kerjanya di pabrik garam.

Suatu hari, lukanya makin parah. Bisulnya yang kian membesar pecah, nanah mengalir deras. Luka itu ia obati sendiri dengan kapas. Suatu ketika, saat kapas itu dibuka, perempuan asal Nganjuk itu menemukan ada belatung di sana.

Suami Narti, Kamidi mengaku pasrah dengan kondisi istrinya. Ia tak mampu memasukkan istrinya ke rumah sakit. Penghasilannya yang tak tentu, kadang Rp20 ribu sehari, kalau lagi beruntung Rp40 ribu hanya cukup untuk makan dan membayar kontrakan Rp800 ribu pertahun. "Mati urip, opo jare Pengeran. Wes tak ramute dhewe nang omah (Hidup mati apa kata Tuhan. Saya rawat sendiri saja di rumah)," kata dia, pasrah.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar