Mengembalikan Seni Sebagai Media Komunikasi Sosial

Bookmark and Share
http://assets.kompas.com/data/photo/2012/05/03/2202082p.jpg
JAKARTA, KOMPAS.com - Ledakan pasar seni rupa pada tahun 2008, telah menggeser peran seni sebagai media komunikasi untuk mengungkap berbagai persoalan sosial. Demi tuntutan ekonomi, seni lebih banyak menghamba pada pasar dan para perupanya sibuk memenuhi pesanan galeri.
Keadaan itu meresahkan sekelompok seniman muda Yogyakarta, yang bergabung dalam Kelompok Kebudayaan Tritura. Mereka berupaya mengembalikan fungsi seni sebagai media komunikasi demi kesejahteraan masyarakat. Salah satu isu yang tengah gencar diangkat Tritura adalah persoalan buruh migran.
Sebanyak 56 seniman Tritura menggugah kembali kesadaran masyarakat, akan nasib buruh migran melalui pameran seni bertajuk Artspirasi Buruh Migran: Melintasi Batas di Taman Ismail Marzuki Jakarta 2-15 Mei.
Selain lukisan, para perupa juga membuat seni instalasi dan patung. Pameran tersebut didukung oleh Yayasan TIFA, Komnas Perempuan, dan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli buruh migran.
Sumarwan, Ketua Kelompok Kebudayaan Tritura, Kamis (3/5/2012), mengatakan, seni yang mulai didikte pasar membuat para seniman lupa akan peran mereka bagi masyarakat.
"Banyak perupa yang karena memenuhi tuntutan pasar akhirnya hanya sibuk di studio saja, dan tidak lagi terjun ke masyarakat,"  kata Sumarwan.
Artspirasi banyak menggali persoalan-persoalan yang dialami buruh migran, selama mereka bekerja di negeri orang.
Sebelum menciptakan karya untuk artsipirasi ini, sebagian seniman wajib melakukan observasi dan eksplorasi langsung ke lapangan, tinggal bersama keluarga buruh migran untuk ikut merasakan persoalan yang mereka hadapi.
Para seniman ini masuk ke kantong-kantong buruh migran, seperti Indramayu, Cirebon, Jepara, Blitar, dan lain-lain.
"Kami tinggal selama satu bulan, bergaul dengan mereka, dan ikut menjalani kehidupan mereka sehari-hari," kata Tri Suharyanto, perupa dari Sonopakis Bantul DI Yogyakarta, yang hidup bersama keluarga buruh migrant di desa Glimpang Pasir, Cilacap, Jawa Tengah.
Ia menemukan fakta, 80 persen warga desa pernah menjadi buruh migran. Padahal desa itu memiliki kekayaan alam pasir besi, yang hasilnya justru dikeruk pengusaha besar sementara warga tidak mendapatkan apa-apa.
Kondisi itu direspon Suharyanto, dengan membuat lukisan berjudul Wajah Serambi Indonesia, yang menggambarkan siluet gelap rumah kumuh dengan latar belakang industri berat.
Ia juga menciptakan karya patung Keris Pamor Garuda Pancasila, yang dalam imajinasinya akan mampu mengatasi persolan bangsa dengan kesaktiannya.
Persoalan pengangguran direspon perupa A Bambang Harnawa, dengan membuat seni instalasi berupa tubuh perempuan terperangkap dalam kurungan ayam.
Bambang ingin mengungkapkan bahwa perempuan buruh migran yang berjuang untuk menghidupi keluarganya, banyak mengalami berbagai persoalan seperti perkosaan, penyiksaan, bahkan hukuman mati. Nasib perempuan buruh migran, seperti binatang piaraan yang dikurung untuk diperjualbelikan ke negara asing.
Tritura dibentuk pada tahun 2008 oleh sekelompok seniman muda, yang resah melihat kondisi dunia seni yang semakin mengabdi pada pasar. Suharyanto mengatakan, seniman, terutama perupa, banyak menciptakan tema dan karya yang "seksi" agar dilirik galeri.
Galeri dan ruang pamer juga semakin tidak memberi tempat pada tema-tema sosial semacam artspirasi.
Sebagai bentuk langsung pengabdian para seniman kepada masyarakat, Tritura juga memanfaatkan seni sebagai alat advokasi.
Bersama jaringan LSM buruh migran, seniman musik Tritura yang akan menggelar tur di berbagai daerah sekaligus akan membuka gerai informasi dan konsultasi untuk mereka yang akan mengadu nasib ke luar negeri. (LUSIANA INDRIASARI)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar