Ada Petinggi di Balik Serangan Geng Motor?

Bookmark and Share
http://assets.kompas.com/data/photo/2011/03/09/0840323620X310.gif

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengungkapan kasus kekerasan yang dilakukan geng motor di Jakarta beberapa waktu lalu kian terang. Sebanyak empat anggota TNI dari satuan Artileri Pertahanan Udara 6 Tanjung Priok ditangkap Polisi Militer TNI karena terbukti terlibat aksi brutal pada 13 April 2012.

Karena itu, jangan takut pak polisi! Saya di belakang Anda. Kalau takut kena tembak, itu enggak ada rasanya kok, paling rasanya 15 menit kemudian.

Keterlibatan anggota TNI ini terbongkar setelah Pangdam Jaya Mayor Jenderal Waris, membukanya ke publik pada Kamis (19/4/2012) malam seusai acara silaturahim TNI-Polri di Hotel Sahid, Jakarta. Di dalam sambutan pemimpin daerah teritorial tertinggi di Jakarta itu, Waris juga mengaku sempat "curhat" ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal aksi geng motor ini.

"Saya dipanggil Presiden ke Cikeas bersama Kapolda. Di sana, saya bilang ke Presiden mohon maaf saya belum mampu memenuhi keinginan senior saya yang ekstrem," tutur Waris.

Ketika itu, Waris pun ditanya Presiden SBY, "Senior yang mana? Saya jawab lantang, si A."

Yang disebut Waris adalah atasan yang ketika memimpin mendukung peristiwa itu.

Ia melanjutkan, sebagai perpanjangan tangan Panglima TNI, Pangdam Jaya bertanggung jawab penuh menjaga keamanan di wilayahnya. Oleh karena itu, Waris pun sudah berbicara ke semua angkatan TNI agar tidak berbuat onar. "Sudah saya sampaikan ke angkatannya untuk tidak coba-coba mengacau terkait geng motor," ujarnya.

Menurut Waris, jika ada sikap pemimpin yang mendukung penyerangan geng motor itu, tidak pantas bila disebut senior. "Saya bicara lantang karena saya siap dipecat karena saya ini mau dipecat juga tetap bisa hidup. Saya orang Dharma Wulan, saya orang desa, biasa hidup susah," kata Waris.

Ia mengakui sebagai pemimpin Kodam Jaya, cukup sulit menjaga kestabilan keamanan dan juga memenuhi keinginan para senior. Akan tetapi, seorang pemimpin, menurut dia, harus punya keberanian moral.

"Karena itu, jangan takut pak polisi! Saya di belakang Anda. Kalau takut kena tembak, itu enggak ada rasanya kok, paling rasanya 15 menit kemudian. Apalagi dilempar batu, rasanya baru 10 menit kemudian. Hanya orang sinting yang ingin negaranya rusuh!" ucap Waris, menggebu-gebu.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar