Pemerintah Perlu Dialog dengan Keluarga 3 TKI

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2012/04/26/152494_seorang-pria-dekat-foto-dua-tki-yang-diduga-jadi-korban-jual-beli-organ-tubuh_300_225.jpg
VIVAnews - Direktur Migrant Care, Anis Hidayah, menyatakan bahwa pemerintah perlu membuka ruang dialog bagi keluarga korban tiga TKI yang diduga menjadi korban pencurian organ di Malaysia, meskipun hasil otopsi ulang  menyatakan dugaan itu tidak terbukti.

"Migrant Care menilai, apa yang dilihat keluarga harus dianggap dan perhatikan," kata Anis dalam diskusi 'Mengurus TKI Setengah Hati' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 28 April 2012.

Alasan yang dikemukakan Anis adalah ayah Herman, Maksum, melihat bahwa mata Herman tak lengkap, bolong, otaknya diisi plastik, serta organ dalam putus. "Pak Maksum bukan ahli forensik, tetapi kami masih mengakomodasi fakta yang dilihat ke korban ketika dilibatkan dalam otopsi," jelasnya.

Anis juga mengkritik sikap pemerintah yang baru bergerak setelah adanya laporan dari masyarakat. Sebab, sebelumnya mereka tidak responsif.

"Pemulangan jenazah diurus oleh perusahaan jasa dan keluarga masing-masing membayar Rp13 juta. KBRI dalam kondisi tidak memungkinkan, tidak melakukan pengecekan sebab kematian mereka," ujarnya.

Sementara itu, Jubir Kementerian Luar Negeri, Michael Tene, mengatakan bahwa semua pihak harus menghargai hasil otopsi yang diumumkan oleh Kemenlu dan Mabes Polri Jumat kemarin. Menurutnya, hasil sudah jelas bahwa isu digaan pencurian organ tidak benar.

"Kementerian Luar Negeri tidak terlibat dalam otopsi. Tim otopsi dari kepolisian, Universitas Mataram. Jelas-jelas bahwa tidak ada organ-organ yang hilang," ujarnya.

Dengan adanya penjelasan itu, lanjutnya, setelah melakukan proses otopsi yang transparan dan profesional, setidaknya satu masalah sudah selesai. "Kini, satu persoalan lain harus diselesaikan oleh pemerintah, yaitu menyelidiki masalah penyebab meninggalnya tiga TKI itu," tutur Michael. (ren)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar