Bayi Tabung Lebih Berisiko Sakit Jantung Saat Dewasa

Bookmark and Share
http://images.detik.com/content/2012/04/19/763/nyeridada-dlm-ts.jpg
Jakarta, Untuk pasangan yang mengalami masalah dengan kesuburannya, prosedur bayi tabung bisa menjadi alternatif agar cepat dapat momongan. Sayangnya, ada risiko yang cukup mengkhawatirkan. Menurut sebuah penelitian, bayi yang lahir melalui prosedur bayi tabung lebih besar risikonya terkena penyakit jantung saat dewasa.

Ilmuwan di Swiss membandingkan 64 anak yang lahir lewat prosedur bayi tabung dengan 57 anak yang dikandung secara alami. Penelitian menemukan bahwa 30% peserta bayi tabung memiliki tekanan arteri paru dan kekakuan pembuluh darah yang tinggi.

"Prosedur bayi tabung sampai saat ini telah banyak memberi orangtua anak-anak yang sehat dan besar. Jika ada sinyal masalah, anak-anak ini mungkin akan mengidap penyakit jantung lebih dini, yaitu di usia 50-an atau 60-an, bukan di usia 70 atau 80-an tahun," kata David Celermajer, profesor kardiologi di University of Sydney Medical School seperti dilansir The Conversation, Kamis (19/4/2012).

Tim peneliti yang dipimpin oleh para ilmuwan di Bern University Hospital percaya bahwa peningkatan risiko ini merupakan akibat dari proses kimia saat embrio masih berada di dalam cawan Petri. Bahan kimia yang digunakan dalam pembuahan diperkirakan mempengaruhi beberapa gen. Tapi peneliti menemukan bahwa banyak orang yang dikandung normal juga memiliki tanda-tanda genetik yang sama.

Selama prosedur bayi tabung, dokter mengambil sel telur dari ovarium dan kemudian dibuahi dengan sperma dalam tabung uji. Atau bisa juga dengan menyuntikkan sperma langsung ke dalam sel telur untuk membantu pembuahan. Proses ini menciptakan embrio yang tumbuh beberapa hari kemudian lalu ditanamkan di dalam rahim ibu.

Profesor Celermajer mengatakan, fase ini adalah fase yang sangat kritis dari proses perkembangan bayi. Pada 10 hari pertama setelah sel telur dan sperma bertemu untuk membentuk embrio, terjadi banyak hal yang penting untuk menentukan perkembangan bayi secara normal. Perubahan yang halus saja dapat menyebabkan perubahan yang sangat penting dalam perkembangan bayi pada akhir kehamilan.

Ada 2 kemungkinan penyebab tekanan seluler yang dialami embrio. Salah satunya adalah tekanan fisik yang diterima, disuntikkan atau dimanipulasi. Yang kedua adalah tekanan kimia dari bahan kimia dalam tabung reaksi atau perubahan tingkat oksigen.

"Terkadang, sel-sel dalam lingkungan yang sedikit lebih asam mengalami stres oksidatif. Dalam istilah awam, tekanan ini mempengaruhi penggunaan energi pada sel-sel sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan," kata prof Celermajer.

Namun penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Circulation ini relatif kecil sehingga tidak cukup menunjukkan bahwa orang yang dilahirkan melalui prosedur bayi tabung lebih berisiko menderita serangan jantung atau stroke. Temuan ini hanya menunjukkan bahwa orang yang dilahirkan dari bayi tabung lebih mungkin terserang tekanan darah tinggi, diabetes, serangan jantung atau stroke menjelang paruh baya.

Yang juga menjadi perhatian prof Celermajer, tekanan yang dialami oleh sel-sel induk dalam embrio mungkin juga mempengaruhi pembuluh darah dan organ lain. Jadi ia mendesak untuk memeriksa ginjal, hati, otak, paru-paru dan organ lain yang juga bisa terpengaruh.

"Bayi tabung adalah sebuah 'keajaiban' dan manfaatnya lebih besar dibandingkan risikonya. Tetapi penelitian menemukan tanda-tanda yang cukup mengganggu bahwa memanipulasi alam dengan cara ini mungkin dapat menyebabkan beberapa efek samping," kata prof Celermajer.
sumber : /health.detik.com/

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar