Zoya, si Cantik yang Membuka Selubung Masalah Psikologi Seksual

Bookmark and Share
http://images.detik.com/content/2012/04/09/763/zoya1-dlm.jpg
Jakarta, Seks tidak melulu menyenangkan tapi juga kadang menyiksa, membingungkan bahkan menakutkan jika tidak sesuai dengan yang diharapkan. Masalah seks kadang bisa mengguncang jiwa seseorang, tapi karena dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka makin banyak orang yang tak berani mencari jalan keluarnya.

Membicarakan masalah seks menurut banyak orang bagaikan membuka aib diri. Disinilah peran seorang Zoya Dianaesthika Amirin memberikan pencerahan. Karena perempuan jelita ini memang berprofesi sebagai psikolog seksual.

Wanita kelahiran 7 September 1975 ini paham betul bahwa membicarakan masalah seks di Indonesia akan terbentur dengan anggapan-anggapan kurang pantas atau tidak layak diomongkan.

"Tapi karena selalu ditutup-tutupi banyak orang mencari jalan keluarnya sendiri dan jadi lebih percaya mitos ketimbang sisi ilmiahnya, dan yang lebih memprihatinkan lagi karena tidak ada edukasi seks banyak remaja putri yang hamil di luar nikah atau banyak orang terkena penyakit seks menular," kata Zoya saat berbincang dengan detikHealth di kantornya PT Sinergi Daya Insani, Jl Taman Lebak Bulus 4 Blok H No 19 D Jakarta Selatan seperti ditulis, Senin (9/4/2012).

Padahal menurut perempuan berdarah Manado-Semarang ini, seks seharusnya bisa didiskusikan dari sisi ilmiahnya dan orang harus dibiasakan untuk tidak berpikiran negatif atau 'kotor'. Dengan begitu orang bisa mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya dan harus bagaimana menghadapinya.

"Jangan berpikir seks itu negatif, karena seks itu penting bagi orang dewasa, layaknya kebutuhan mereka terhadap makan, minum setiap hari. Tapi bukan berarti orang bebas melakukan seks, tetap seks yang baik itu adalah seks yang bertanggungjawab," ujar Zoya yang menamatkan S-1 Psikologinya di Universitas Indonesia.

Lalu bagaimana berperilaku seks yang benar itu?

"Berperilaku seks lah sesuai dengan usia, misalnya remaja jika belum saatnya melakukan hubungan seks ya jangan dilakukan, orang dewasa jika sudah waktunya menyalurkan hasrat seks secara teratur ya carilah pasangan hidup. Jangan misalnya remaja berperilaku seks seperti umur 30-an tahun atau orangtua berperilaku seks seperti remaja 17 tahun. Yang terpenting seks itu harus diekspresikan dengan cara yang bertanggungjawab. Jangan pernah mendapatkan cinta dari seks, karena seks yang paling indah itu adalah seks dengan investasi perasaan," ungkap Zoya.





Dan, seperti apakah tipikal seks pasangan menikah di Indonesia? Zoya menjawab, "Banyak pasangan yang menekan hasrat seksnya yang lalu berakibat munculnya ketidakpuasan. Tapi karena kurang dikomunikasikan pelariannya melakukan perselingkuhan. Istri juga kadang terlalu malu-malu atau sangat pasif saat di ranjang dan tidak mau melontarkan apa yang jadi keinginannya, padahal kalau sudah di ranjang suami istri ya harusnya sama-sama aktif".

Jadi perselingkungan lebih banyak disebabkan karena ketidakpuasan seks pasangannya? "Perselingkuhan itu terjadi karena yang bersangkutan (si peselingkuh) tidak mampu membangun yang seharusnya dibangun, ia gagal memahami keinginan dirinya kepada pasangannya. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, jadi kalau ada masalah selesaikan termasuk tanda-tanda jenuh dalam pernikahan dengan melakukan bulan madu lagi, dengan begitu tidak ada ruang untuk pasangan berselingkuh karena dalam pernikahan itu tidak boleh ada yang mendua harus setia dengan komitmennya".

Itu berarti orang tidak bisa begitu saja bercerai karena berselingkuh? "Ketika ada yang berselingkuh kembalilah ke komitmen awal. Memang sulit membangun sesuatu yang sudah tersakiti, tapi kalau yang satu mau berubah dan yang satu mau memaafkan dan melupakannya, bercerai belum tentu jalan yang terbaik".

Jadi karena alasan apa orang bisa bercerai? "Karena sudah tidak cinta lagi, karena sulit untuk jalan bersama kalau yang satu sudah tidak cinta lagi. Tapi cinta itu memang harus selalu dipupuk agar tidak habis dan berakhir pada perpisahan. Kalau pasangan ingin anak-anaknya bahagia, maka orangtuanya harus bahagia dulu".

Perempuan penyuka warna pink ini mengaku tertarik mendalami psikologi seksual karena melihat minimnya informasi soal seks yang benar di masyarakat. Anak misalnya tidak mendapatkan informasi yang benar dari orangtua atau guru sehingga saat mengalami puber anak mulai coba-coba mengeksplorasi dirinya termasuk keingintahuan tentang hubungan seks yang tinggi. Akibatnya, banyak terjadi remaja yang hamil di luar nikah, kasus perkosaan, atau pada orang dewasa mengalami gangguan kejiwaan karena masalah seks yang tidak terselesaikan.

Karena melihat fenomena itu, usai menyelesaikan S2 Psikologi Klinis di Fakultas Psikologi UI, Zoya lalu mengambil sertifikasi yang terkait dengan perilaku seksual. Sertifikasi tingkat dasar ia ambil dari Australia dan Amerika dan tingkat lanjut dirampungkannya di jurusan Seksologi Univesitas Udayana Bali di bawah bimbingan Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila. Sejak itu Zoya fokus mendalami pasien psikologi seksual dan ia pun termasuk aktif dalam perkumpulan tenaga medis Asosiasi Seksologi Indonesia. Zoya juga tercatat sebagai satu-satunya psikolog perempuan yang mendalami psikologi seksual di Indonesia. Karena menjadi satu-satunya ini, profilnya diulas luas oleh media-media asing.





Kini seiring dengan mulai terbukanya pandangan orang Indonesia soal seks yang benar, Zoya pun hampir tiap hari beredar di banyak media mulai dari media online, cetak hingga TV. Belum lagi undangan menjadi pembicara seminar di beberapa daerah yang membuat perempuan berambut indah ini harus pintar membagi waktunya.

Puaskah Zoya dengan pencapaiannya saat ini?

"Sebagai seorang psikolog seksual saya masih terus prihatin melihat banyak kasus-kasus hamil di luar nikah, meningkatnya penyakit seks menular, korban perkosaan, anak jalanan atau perempuan cacat yang menjadi korban perkosaan. Itu kan berarti PR bagi semua orang agar terus-menerus menginformasikan seks yang bertanggung jawab," katanya.

Zoya juga berharap rencananya untuk mengambil S3 tentang Human Sexuality di Universitas Indiana Amerika bisa terealisasi. Ia punya ambisi untuk membuat peta Human Sexual masyarakat Indonesia. Bukan pekerjaan mudah memang, tetapi ia berharap bisa membuat peta itu

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar