Presiden Burma Bertemu Pemberontak Karen

Bookmark and Share
http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/-Presiden-Myanmar-Thein.jpg

TRIBUNNEWS.COM NAYPIDAW -Presiden Myanmar Thein Sein untuk pertama kalinya bertemu dengan pemberontak Karen.

Pemberontak Karen telah memastikan kepada BBC bahwa pemimpin mereka telah bertemu dengan Presiden Myanmar Thein Sein.

Wartawan BBC Rachel Harvey melaporkan pertemuan itu merupakan langkah besar yang dilakukan pemerintah Myanmar untuk mencari perdamaian dengan berbagai kelompok separatis di negara itu.
Sebelumnya, sumber-sumber pemerintah Myanmar mengatakan Presiden Thein Sein melakukan pertemuan dengan para pemimpin pemerontak Karen, Sabtu (7/4/2012).

"Ini adalah pertemuan pertama antara presiden dan delegasi Uni Nasional Karen (KNU)," kata seorang pejabat pemerintah Burma seperti dikutip AFP.

Pejabat itu mengatakan enam orang perwakilan KNU termasuk anggota sayap militer organisasi itu diterbangkan dengan pesawat khusus ke ibukota Myanmar , Naypyidaw untuk melakukan pembicaraan bersejarah yang berlangsung 90 menit.

Selain bertemu dengan Presiden Thein Sein, para petinggi KNU juga dijadwalkan bertemu dengan tokoh oposisi Aung San Suu Kyi pada Minggu (8/4/2012). sepekan setelah dia memenangkan pemilu.
Berbagai perubahan ini terjadi sejak rezim pemerintah militer berakhir tahun lalu yang kemudian diikuti gencatan senjata dengan KNU pada Januari lalu.

Gencatan senjata itu menghentikan untuk sementara perang saudara yang sudah berlangsung sejak 1949 itu.

Delegasi Karen dan Myanmar menandatangani sejumlah dokumen dalam pertemuan bersejarah.
Komitmen pemerintah untuk mengakhiri konflik bersenjata di seluruh Myanmar tertuang dalam 13 poin rencana perdamaian yang dinegosiasikan antara KNU dan pemerintah Myanmar.

Kedua pihak menyepakati adanya jaminan keselamatan warga sipil, sementara upaya untuk pemukiman kembali mereka yang kehilangan tempat tinggaknya segera disusun.
Burma yang dihantui perang saudara sejak kemerdekaan pada 1948, sejak lama menganggap KNU sebagai organisasi ilegal.

Itulah sebabnya sebagian besar petinggi KNU harus menjalankan organisasi ini dari Thailand.
Sebagai akibat perang dengan pemerintah, puluhan ribu warga Karen terpaksa mengungsi. Sebagian besar dari mereka tinggal di kamp-kamp pengungsi di Thailand.

Selain dengan pemberontak Karen, pemerintah Myanmar juga menandatangani perjanjian serupa dengan beberapa kelompok separatis lain.

Namun, pertempuran yang masih berlangsung di negara bagian Kachin di utara yang sudah menghasilkan puluhan ribu pengungsi sedikit menodai upaya perdamaian ini.

Pemerintah menunda pemilu sela di tiga wilayah di negara bagian ini karena alasan keamanan.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar