Alokasi Dana Bosda RSBI Lebih Besar

Bookmark and Share

TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA - Permintaan Sekolah Rintisan Berstandar Internasional (RSBI) agar mendapat porsi dana bantuan operasional sekolah daerah (Bosda) lebih besar disetujui Pemerintah Kota Samarinda.

Kepala Dinas Pendidikan Samarinda, Harimurti WS ketika di temui di DPRD Samarinda, Selasa (3/4/2012) mengatakan, pada dasarnya tidak ada pendidikan yang tanpa biaya. Yang perlu menjadi perhatian adalah pengadaan sumber dana tersebut.

"Kita harus merasionalisasi, tidak ada pendidikan yang tanpa biaya, cuma dari mana sumbernya. Kalau tidak ada biaya dari masyarakat maka harus dibiayai oleh pemerintah. Opsi itu sekarang yang sedang kita hitung," kata Harimurti.

Pada tahun 2011, lanjutnya, SMP RSBI tidak dapat dana Bosda. Maka sekarang harus disediakan oleh pemerintah. Jika porsinya lebih besar juga tidak masalah

Porsi bosda yang lebih besar diterima RSBNI tentunya bisa berakibat menimbulkan kecemburuan dari sekolah lain. Hal ini langsung ditampik Harimurti karena penyeragaman ke arah lebih adalah benar. Tapi kalau sebaliknya, sekolah harus dapat menerima kondisi yang ada.

"Sekarang begini, itulah sifat pemerataan, sama tidak baiknya, sama jeleknya, itu yang tidak baik, sudah biasa seragam. Berbeda sedikit, sudah nyeleneh, tidak bisa seperti itu. Kalau mimpi saya, semua jadi RSBI. Tapi ga mungkin," tandas Harmurti.

Untuk menuju RSBI menurutnya harus melalui beberapa tahapan. Menonjolkan sekolah juga menurut Harimurti tidak harus dengan menjadi RSBI. Menonjolkan keunggulan lokal juga menjadi nilai lebih bagi suatu sekolah. Program mengembangkan keunggulan lokal agar tetap tetap berjalan tentunya harus disiasati dengan tidak menambah jam pelajaran yang membutuhkan banyak biaya.

Seperti yang dilakukan SMP 21 dalam program full day school. Tapi cukup dengan menambah mata pelajaran ketrampilan kepada siswa. Maka, tidak perlu sekolah melakukan pemangkasan program ketrampilan. Alternatif lain menurut Harimurti mengandalkan kelas akslerasi (percepatan) seperti yang diadakan SMA 10 Samarinda.

"Tagihan kita juga berbeda. Coba lihat sekolah yang dibiayai orangtua, lihat saja SD Muhammadiyah, SD Cordopa, itu bukan main. SD Bunga Bangsa, itu menolak dana bosda. Artinya, ada pangsa pasarnya sendiri. Pemangkasan program harus dihitung kembali. Saya masih mengharapkan ada sekolah yang punya keunggulan lokal dan jangan dimatikan. Tapi jangan menambah jam menjadi proses bimbingan belajar, tidak. Tapi ada penambahan pelajaran ketrampilan, keberbakatan anak, " kata Harimurti.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar