45 Menit yang Berujung Meninggalnya Anggi

Bookmark and Share
http://assets.kompas.com/data/photo/2012/04/14/1132337620X310.jpg

Dina Marlina (39) hanya bisa menangis sambil menutupi wajahnya, Jumat (13/4). Di depan tempat duduknya, terbaring putra sulungnya, Anggi Darmawan (19), tengah dalam kondisi kritis. Suara tangisnya memecah keheningan Paviliun Matahari II RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Anggi tidak sadar sejak masuk ke rumah sakit itu sekitar pukul 03.00. Dokter menyatakan Anggi mengalami pendarahan otak akibat pukulan benda tumpul. Wajah Anggi juga penuh memar akibat pukulan.

Alat-alat medis terpasang di tubuh Anggi untuk menyambung nyawa pemuda bertubuh kurus itu. Perawat kerap mondar-mandir untuk menyedot darah dari rongga mulutnya. Pukul 10.50, nyawa Anggi tidak terselamatkan lagi.

Tak terbayangkan

Akhir perjalanan hidup Anggi ini tidak pernah terbayangkan oleh Dina dan suaminya, Darman (42). Kamis malam, Anggi pamit hendak nongkrong di Jalan Pramuka bersama kawankawannya.

”Baru akhir-akhir ini dia nongkrong di Jalan Pramuka,” kata Darman yang mengaku tak bisa tidur sepanjang malam lalu.

Untuk pergi ke Jalan Pramuka, Anggi dijemput kawan-kawannya karena dia tidak punya sepeda motor. Orangtuanya tak pernah membelikan Anggi sepeda motor lantaran khawatir disalahgunakan. Lagipula, keluarga ini hidup dalam kondisi ekonomi pas-pasan. Namun, Darman mengakui, Anggi bisa mengendarai sepeda motor.

Setelah lulus SMP, Anggi sempat bekerja sebagai kurir. Namun, pekerjaan ini tidak lama dilakoninya. Setelah itu, dia menganggur. Saat tidak punya pekerjaan itu, Anggi kerap ikut nongkrong dengan teman-temannya. Dia senang menyaksikan balap liar yang sering digelar di jalanan. Menurut keluarga, Anggi tidak pernah bergabung dalam geng motor tertentu.

Suasana Jalan Pramuka, terutama mulai Hotel Sentral hingga selepas SPBU Shell, memang meriah di malam hari. Banyak anak muda berkumpul dan pedagang makanan yang berjualan di sepanjang jalan. ”Kalau malam Jumat sampai malam Minggu, sering ada yang balapan di jalan,” kata Sudar, salah satu pemilik warung di kawasan itu.

Selain mereka yang ikut balap liar, banyak juga remaja yang sekadar duduk-duduk. Sepeda motor juga parkir berjajar di sepanjang jalan. Bagi sebagian warga, kondisi ini meresahkan. Sesekali ada patroli polisi yang menghalau balapan liar. Namun, kerap juga kebut-kebutan kendaraan berlangsung bebas. ”Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena jumlah orang yang nongkrong sangat banyak,” kata Epo, warga sekitar.

Namun, kejadian Jumat dini hari itu sangat mengagetkan. Tiba-tiba saja segerombolan pengendara sepeda motor datang dari arah perempatan Pramuka dan perempatan Pemuda. Gerombolan yang membawa balok kayu ini lantas merusak sepeda motor dan memukuli pemuda yang ada di situ. Mereka yang tengah nongkrong di jalan sontak kocar-kacir.

Sekitar 45 menit, gerombolan berputar-putar di Jalan Pramuka. Dua sepeda motor dibakar, ada juga yang dibawa kabur. Sepanjang waktu itu pula tidak ada polisi di lokasi hingga gerombolan ini bubar sendiri.

Namun, kawanan ini hanya menyasar pemuda yang tengah nongkrong dan sepeda motor yang terparkir di sepanjang jalan tersebut. ”Pemilik warung disuruh masuk ke dalam. Barang-barang dagangan tidak dirusak,” ucap Jamal, pemilik warung.

Setelah gerombolan ini bubar, barulah orang menolong Anggi yang sudah terkapar di antara pembatas jalan. Satu korban lain, Nendi (22), juga mengalami luka memar serius di wajah. Dengan bajaj, mereka dibawa ke RS Islam hingga ajal menjemput Anggi.

(Agnes rita Sulistyawati)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar