Nasir Djamil: Teman Saya Sebut La Ilaha Illallah Semenit

Bookmark and Share
http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/20120112_DPR_RI_Minta_Kedamaian_Di_Aceh.jpg

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tak pernah terbayangkan oleh Nasir Djamil harus mendengar gempa dahsyat 8,5 SR dan berpotensi tsunami di daerah pemilihannya, Aceh, saat tengah mengikuti rapat paripurna RUU Pemilu di DPR, Jakarta, Rabu (11/4/2012).

Anggota Komisi III dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menceritakan detik-detik sebelum gempa dahsyat mengguncang Aceh dan Sumatera pada pukul 15:38:29 WIB sore tadi.

Nasir mengaku sedang menelepon Hayati, Ketua DPW PKS Aceh Bidang Pembinaan Wanita, beberapa saat sebelum gempa terjadi.

"Saya menelepon kader PKS dari Banda Aceh, karena saya mau konsolidasi program-program yang akan saya bawa saat reses minggu depan," ujar Nasir.

Di tengah perbincangan lewat telepon, Nasir mendengar Hayati mengucap banyak kalimat Tahlil. Nasir bingung mendengar lawan bicaranya mengucap kalimat Tahlil tanpa henti.

"Enggak lama kemudian, dia bilang La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah. Saya bingung. Saya pikir, ini ada apa? Saya enggak tahu, karena dia enggak bilang ada gempa," ungkap Nasir.

Karena Hayati tak juga berhenti mengucapkan kalimat Tahlil hingga sekitar semenit, Nasir akhirnya menutup pembicaraan telepon tersebut.

Beberapa saat kemudian, Nasir mengaku menerima pesan BlackBerry Messenger (BBM) di telepon genggamnya, bahwa terjadi gempa 8,5 SR di Aceh. Kabar itu disampaikan rekan Nasir yang juga kader PKS di Lhokseumawe.

"Setelah BBM itu masuk di hp, saya baru tahu, rupanya ada gempa besar. Baru deh, Pak Marzuki Alie (Ketua DPR-pimpinan rapat paripurna) menyampaikan informasi di paripurna," tuturnya.

Mengetahui kabar bencana itu, pikiran Nasir langsung melayang dan kembali ke bencana gempa dan tsunami dahsyat yang sempat ia alami pada 2004 lalu.

"Waktu tsunami 2004, saya di Banda Aceh. Waktu itu saya sedang di sekitar rumah, dan anak yang sedang belajar naik sepeda motor teriak, 'Air laut naik, air laut naik'," kisahnya.

"Imajinasi saya tidak sampai, seperti apa kalau dibilang air laut naik. Jadi, air tsunami waktu itu sampai sedada di tempat saya. Enggak kehitung lagi berapa mayat yang mengambang di air tsunami di depan saya. Yah, kami waktu itu angkat satu per satu mayat-mayat itu," papar Nasir sambil mengerutkan dahi.

Mendengar kabar tsunami saat rapat paripurna, Nasir bergegas menelepon keluarga besarnya di Banda Aceh. Setelah beberapa kali menelepon, akhirnya Nasir mengucapkan Hamdallah karena mertuanya di Banda Aceh dalam keadaan baik.

"Saya bersyukur, katanya lampu di sana sudah hidup. Saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan malam ini kalau lampu mati. Meski malam ini lampu hidup, pasti mereka sulit tidur dan selalu was-was terjadi gempa atau tsunami lagi," tukas Nasir.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar