Jokowi & Hidayat Nur Wahid Perang Kostum

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2012/04/15/151222_motor-pelayanan-pks_300_225.jpg

VIVAnews - Perebutan kursi Gubernur DKI Jakarta kian sengit. Persaingan tak hanya terekam lewat program-program kerja di masa depan, tapi juga atribut yang menjadi identitas diri.

Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama lebih dahulu menampilkan atribut khas berupa kemeja kotak-kotak perpaduan warna merah, biru, dan putih. Kemeja ini selalu dikenakan di setiap acara yang berhubungan dengan kampanye pencalonan mereka.

Ide mencuri perhatian publik dengan kostum ini tampaknya diikuti Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini. Pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera ini memilih batik oranye sebagai kostum resmi kampanye.

Mereka menamainya 'Batik Beresin Jakarta'. "Ada maknanya, warna oranye adalah warna modernnya Jakarta, warna Jak Mania, dan menghadirkan Jakarta yang lebih sportif dan kami ingin jadi bagian dari itu," kata Hidayat, Jumat, 20 April 2012.

Batiknya pun memiliki corak khas Jakarta. Ada gambar Monas, gedung bertingkat, pohon, dan ondel- ondel. Lewat motif ini, pasangan itu ingin menggambarkan diri sebagai sosok pemimpin yang mencintai modernitas Jakarta dan menghargai tradisi.

"Ondel- ondel bermakna bahwa kami tidak anti pada tradisi yang sudah ada, gambar gedung melambangkan Jakarta sebagai kota modern, sedangkan monas adalah simbol kebanggaan warga Jakarta," katanya.

Mengapa batik? Mantan Ketua MPR ini mengatakan, karena batik juga lekat dengan Budaya Betawi. "Yang punya batik bukan hanya Solo, Pekalongan, Jakarta juga punya batik, salah satunya bernama Batik Pucuk Rebung," ujarnya. "Bahkan hadirnya koperasi Batik pertama itu bukan di Solo, bukan di Pekalongan, tapi di Jakarta."

Apakah mereka juga akan memproduksi secara massal lalu menjualnya kepada masyarakat umum, seperti yang dilakukan Jokowi? "Kami tidak ikuti langkah beliau, kalau kemudian itu diproduksi massal, akan kami bereskan dulu batik ini sampai bisa diproduksi untuk kepentingan internal dan kader," katanya.

Namun, ia mempersilakan bila ada pihak yang mau memproduksi batik karya tim suksesnya tersebut untuk dijual bebas. "Warga Jakarta yang mau cetak, kemudian menjualnya, itu kami izinkan, tidak akan kami persoalkan, tidak ada royalti juga," katanya.

Berapa potong Batik Beresin Jakarta yang ia punya, Hidayat menjawabnya tidak terlalu banyak. "Nggak banyak cukup untuk seminggu, hanya lima potong," kata mantan Presiden PKS ini. (umi)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar