Mereka Kumpulkan Telur Sesajen di Sungai Keramat...

Bookmark and Share
http://assets.kompas.com/data/photo/2012/06/29/0853577620X310.jpg
BONE, KOMPAS.com - Memanfaatkan kebiasaan warga yang kerap melarungkan sesajen di sebuah sungai yang dianggap keramat, sejumlah bocah di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan memanfaatkan hari libur dengan berenang sambil mengumpulkan telur dan bahan sesajen lainnya.

Tak peduli dengan mitos keangkeran sungai ini, para bocah tetap asik bermain sambil berlomba mengumpulkan telur yang dilarung oleh sejumlah peziarah di sungai Palakka, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Sejumlah bocah setempat seakan menjadikan menyelam sambil mengumpulkan telur di dasar sungai sebagai tradisi kala liburan tiba. Umumnya pada hari Jumat hingga hari Senin, warga datang sekadar berziarah atau bernazar di sebuah sumur tua yang tepat berada di pinggir sungai yang dianggap keramat. Para peziarah umumnya membawa sesajen berupa hasil bumi dan telur yang selanjutnya dilarungkan ke dalam sumur serta sungai yang memiliki air jernih ini.

Hal ini yang dimanfaatkan oleh sejumlah anak anak yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Seperti yang dilakukan oleh Hamzah dan kawan kawannya. Hampir setiap akhir pekan, ia menghabiskan waktunya sejak pagi hingga sore hari di sungai ini untuk mengumpulkan telur. Dia mampu mendapatakan belasan hingga puluhan butir telur sehari. "Kalau sudah hari Jumat sudah mulai banyak orang yang datang, apalagi hari Sabtu dan Minggu paling banyak orang datang, jadi kalau libur begini kita berlomba kumpulkan telurnya dari pada dibuang percuma mending kita makan," ujar Hamzah disertai sorakan sejumlah rekannya, Jumat (29/6/2012).

Aksi para bocah ini bukannya tanpa halangan. Tak jarang sejumlah peziarah marah dan mengumpat para bocah yang seakan tak sopan terhadap penunggu sungai. Namun hal ini dianggap angin lalu oleh anak anak ini. Mereka tetap berenang di sungai, sementara peziarah menjalankan ritual larung sesajinya di pinggiran sungai. "Kurang ajar ini anak anak jangan sampai kau dibawa hanyut sama buaya jadi jadiannya," kata Abdul Kadir salah seorang pelarung sesaji yang marah lantaran telur yang dilarungnya dalam sekejap direbut oleh anak anak.

Namun adapula pelarung sesaji lain yang tak menghiraukan ulah para bocah itu. "Yah biasalah, itu kan anak-anak yang penting kita datang ke sini bukan semata-mata mengharap berkah dari sungai ini, tapi semata karena Allah," ujar Hasanuddin yang datang melakukan larung sesaji sambil bernazar.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar