Perhatian terhadap Situs Patiayam Minim

Bookmark and Share
http://assets.kompas.com/data/photo/2012/02/04/0925146p.jpg

KUDUS, KOMPAS.com--Anggota DPRD Kabupaten Kudus, Ghofar, menganggap, perhatian Pemerintah Kabupaten Kudus terhadap pengembangan Situs Patiayam masih sangat minim, karena anggaran yang diusulkan pada APBD 2012 hanya Rp 40 juta.

"Bahkan, anggaran sebesar Rp 40 juta rencananya hanya untuk pemberian honor pengelola benda cagar budaya, penjaga situs, dan penemu fosil," ujar Ghofar yang menjadi juru bicara Fraksi Partai Golkar pada rapat Pandangan Umum Fraksi terhadap Rancangan Perda Kabupaten Kudus terhadap APBD 2012 di DPRD Kudus, Kamis.

Padahal, lanjut dia, nama kegiatannya sebagai pengelolaan dan pengembangan pelestarian peninggalan sejarah purbakala, museum, dan peninggalan bawah air.

Dengan demikian, kata dia, dana yang dianggarkan tersebut belum menyentuh program utama kegiatan tersebut.

Untuk itu, dia mengusulkan dan menuntut Pemkab Kudus agar memberikan perhatian yang lebih besar terhadap keberadaan situs bersejarah tersebut.

Di antaranya, kata dia, melalui penganggaran untuk pembangunan sarana dan prasarana museum daerah dan perawatan fosil serta benda purbakala. "Tanpa perawatan yang lebih maksimal, tentunya fosil dan benda-benda bersejarah lainnya mudah rusak," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, pemkab juga perlu melakukan penataan wisata yang ada di kawasan situs, sebagai salah satu upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Situs Patiayam.

Beberapa obyek wisata yang perlu ditata, yakni Gua Patiayam, Sendang Pengilon, gardu pandang, serta pendampingan untuk membangkitkan kesenian ketoprak dan barongan di daerah setempat.

Ia juga mengusulkan ditetapkannya Desa Terban sebagai desa wisata, bukan hanya Desa Wonosoco, Jepang, Colo, Kauman, dan Loram sebagai desa wisata.

Menurut dia, hal tersebut cukup penting, dalam rangka penyelamatan destinasi wisata asli sumber daya alam yang berada di Kudus.

Adapun jumlah fosil purba hasil temuan di kawasan Situs Patiayam, di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, mencapai 1.100 fosil.

Mayoritas benda fosil purba yang ditemukan memiliki memiliki usia geologis antara 700 ribu hingga 1,5 juta tahun yang lalu.

Ratusan unit koleksi benda bersejarah tersebut disimpan di dua tempat berbeda, yakni di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus dan Balai Desa Terban setelah sebelumnya disimpan di rumah warga setempat.

Benda-benda bersejarah tersebut ditemukan dalam bentuk serpihan dan sebagian ada yang masih utuh yang merupakan temuan sejak tahun 2005 hingga sekarang.

Adapun jenis fosil purba yang ditemukan, meliputi fosil fauna, seperti fosil Bofidae (sejenis kerbau / banteng / rusa / sapi) dan Elepansi (sejenis gajah purba) yang diperkirakan memiliki usia geologis antara 700 ribu hingga 1 juta tahun yang lalu.

Sedangkan penemuan fosil fauna lainnya, yakni Stegodon Trigonochepalus (gajah purba), Elephas Sp (juga sejenis gajah purba), Ceruss Zwaani dan Cervus Lydekkeri Martin (sejenis rusa), dan Rhinoceros Sondaicus (badak).

Selain itu, ada Brachygnatus Dubois (babi), Felis Sp (macan), Bos Bubalus Palaeokarabau (sejenis kerbau), dan Bos Banteng alaeosondaicus, serta Crocodilus sp (buaya).

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar