Bersih Tak Selamanya Bebas Alergi

Bookmark and Share
http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Anak-anak-bermain_1.jpg

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyebaran penyakit dan infeksi biasanya disebabkan antara lain karena lingkungan yang tidak bersih, terutama terhadap anak-anak. Namun sesekali anak perlu dibiarkan "berkotor-kotor" karena lingkungan yang terlalu bersih justru menyebabkan anak rentan alergi.

"Alergi atau asma memang berbanding terbalik dengan infeksi. Makin bersih lingkungan, makin rentan terkena alergi. Dalam dunia kedokteran ini disebut dengan hygine hypothesis," jelas dr. Zakiudin Munasir, Sp.A (K), ahli alergi dan imunologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam media edukasi mengenai alergi di Jakarta, Selasa (21/2/2012).

Zakiudin mencontohkan, kasus asma di negara Inggris yang mencapai 40 persen dari populasi, sedangkan di Indonesia tidak sampai 5 persen. "Tapi kasus infeksi di negara kita tinggi," ujarnya.

Alergi juga bisa timbul pada anak yang sering mendapatkan obat antibiotik. "Antibiotik akan mematikan kuman-kuman di dalam tubuh sehingga tidak ada yang menekan reaksi alergi," katanya.

Menurut hipotesis higienis, akibat lingkungan yang terlalu bersih, termasuk penggunaan sabun antibakteri, akan menyebabkan tubuh tidak lagi perlu melawan bakteri dan menciptakan lebih banyak protein pelawan alergen. Seperti diketahui, sistem imun kita bukan cuma didesain untuk melawan infeksi (bakteri, jamur, virus), tetapi juga zat asing seperti alergen.

Untuk mencegah alergi, Zakiudin menyarankan agar anak diperkenalkan kepada kuman. "Tetapi bukan kuman yang menyebabkan sakit. Misalnya dengan vaksinasi atau pemberian prebiotik," katanya.

Meski berbakat alergi, namun alergi juga bisa dicegah dengan cara menghindari alergen atau pencetus alergi. Misalnya menghindari paparan tungau debu, makanan yang menimbulkan alergi, tidak memberikan susu sapi terlalu dini pada bayi, serta menghindari paparan asap rokok.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar