"Menjadi Muslim di AS Memang Tidak Mudah"

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2012/02/15/143877_tariq-snare--musisi-asal-amerika-serikat_300_225.jpg

VIVAnews - Bagi sebagian kalangan, lagu-lagu hiphop masa kini lebih identik bertema jatuh cinta, seks, dan kekerasan. Paradigma itu coba diubah oleh Tariq Snare, musisi hiphop asal Amerika Serikat.

Bagi Snare, bermusik hiphop tidak sekadar memanjakan para pendengar dengan dentuman irama yang dahsyat dan tema-tema lirik yang gampang dijual. Hiphop pun bisa menjadi sarana dakwah sekaligus ungkapan hati umat Muslim. Itulah yang dijalani Snare bersama grupnya, Native Deen, yang dikenal sebagai kelompok hiphop Muslim di Amerika.

Melalui sejumlah lagu gubahan mereka, salah satunya "Not Afraid To Stand Alone," Native Deen telah membangkitkan motivasi umat Muslim di Negeri Paman Sam. Berbagai komentar positif muncul saat mereka menggunggah lagu itu di laman media sosial, YouTube.

"Ada yang menulis, 'Saya seorang Muslim dan sebelum melihat video ini saya tidak tahu betapa beruntungnya saya selama ini, dan kini saya rajin salat lima waktu," kata Snare, yang berposisi sebagai penabuh drum di Native Deen.

Kali ini dia datang seorang diri ke Indonesia, setelah tahun lalu datang bersama rekan-rekan segrupnya. Snare sempat unjuk kebolehan dengan tampil bersama sembilan musisi hiphop lokal di Jakarta pada 15 Februari 2012.

Sebelum tampil, Snare berbincang-bincang dengan VIVAnews mengenai pandangannya tentang perkembangan hiphop, dakwah dalam bermusik dan berkah serta tantangan yang dia alami sejak menjadi seorang Muslim di Amerika.

Apa yang membuat Anda menekuni hip hop?
Musik itu istimewa bagi saya karena tumbuh berkembang di New York sementara saya sendiri juga warga asli New York. Hiphop sendiri baru muncul pada akhir tahun 70an atau awal 80an, ketika saya masih duduk di bangku SMA.

SMA saya sendiri merupakan sekolah khusus musik, yaitu Laguardia High School of Music and Art. Jika Anda pernah menyaksikan film 'Fame', kira-kira seperti itulah penggambaran suasana belajar di sana.

Saat kuliah, saya sempat mempelajari jazz karena saya juga suka musik jazz. Tidak hanya itu, saya juga mempelajari pendidikan dan pertunjukan musik saat kuliah.

Yang menurut saya juga menarik adalah, hiphop bisa memberi energi lebih bagi kaum muda. Mereka dapat mengekspresikan apa yang mereka pikirkan, apa yang menarik bagi mereka dengan hiphop, karena hiphop memberi mereka suara.

Apa yang membuat drum hip hop beda dari drum pada genre musik lain?
Saya rasa, peran drum dalam genre selain hip hop tidak terlalu dominan. Nyawa hip hop ada pada drum. Pada era 70an hingga 80an, lagu yang dimainkan para DJ kebanyakan memiliki jeda di tengah-tengahnya.

Jeda itu diisi ketukan drum, dan di situlah hip hop dan rap muncul mengiringi ketukan. Jadi, drum adalah elemen kunci pada hip hop.

Namun, bukan berarti dalam genre musik lain drum tidak penting. Dalam rock n roll misalnya, drum mungkin menduduki posisi kedua elemen terpenting karena nyawa rock n roll ada pada gitar.

Hip hop sama dengan rap, nyawanya terdapat pada drum. Unsur drum sebenarnya juga ada dalam jazz, walau bukan merupakan unsur yang terlalu dominan karena ketukan dalam jazz lebih sulit, dan jazz sangat time conscious.

Apa yang membuat Anda unik dibandingkan musisi hip hop lain?
Saya sebenarnya tidak berpikir kalau saya musisi hip hop yang unik. Hal yang mungkin membedakan saya dari musisi hip hop lainnya adalah latar belakang saya yang seorang guru. Saya dulunya guru sebelum memutuskan berkarir dalam musik. Setelah lulus kuliah, saya sempat mengajar Bahasa Inggris dan Sejarah di sebuah SMP di New York.

Setelah menunggu tiga tahun, saya akhirnya mendapatkan kesempatan menjadi guru musik. Kebanyakan sekolah d AS biasanya memiliki dua guru untuk bidang musik, yaitu guru vokal untuk paduan suara dan guru musik untuk band. Melamar untuk posisi guru musik sangat sulit, jadi saya harus menunggu sekitar tiga tahun.

Di daerah tempat tinggal saya, saya juga seringkali mengadakan semacam acara unjuk bakat, yang biasanya diikuti anak-anak. Di sana mereka bisa bebas berekspresi, seperti yang sering saya lakukan saat mengikuti acara serupa di masa kecil saya. Pada dasarnya saya senang memberi ruang untuk berekspresi

Adakah musisi hip hop Muslim selain Anda? Bagaimana penerimaan publik AS terhadap mereka?
Ada, dan mereka semua adalah musisi yang sukses dan dikenal di seluruh dunia. Contohnya Mos Def, dia merupakan legenda hip hop. Ada pula Lupe Fiasco, dia musisi Muslim yang lagu-lagunya menjadi hit di seluruh dunia.

Ada juga seorang rapper Asal Afrika yang juga mendunia, namun saya lupa namanya. Mereka semua mendunia, dan penggemarnya tidak terbatas hanya Muslim saja.

Siapa musisi favorit Anda?
Saya punya banyak sekali musisi favorit. Saya suka Stevie Wonder, lalu mendiang Michael Jackson yang menurut saya merupakan seorang jenius. Saya juga suka Aretha Franklin.

Perempuan itu hebat, setiap kali dia menyanyi saya selalu merinding. Rasanya setiap lagu yang dibawakannya terdengar begitu berjiwa.

Saya juga suka artis lawas, tapi yang paling saya favoritkan adalah Donny Hathaway. Dia merupakan penyanyi soul hebat dan merupakan seorang legenda. Legendanya akan selalu hidup karena riwayat soulnya diteruskan oleh putrinya yang juga penyanyi soul, Lalah Hathaway. Perempuan ini juga keren, menurut saya.

Banyak lagu hip hop bertutur tentang kekerasan, seks, cinta, bahkan narkoba. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini?
Saya rasa bukan hiphop saja yang bercerita tentang hal-hal itu. Misalnya saja pop dan rock n roll, tema cinta serta kekerasan juga terselip di dalamnya. Saya rasa, apapun jenis musiknya, pesan yang disampaikan lebih terkait dengan ekspresi suara hati dan nurani pengarangnya.

Hiphop memberi orang 'suara', dan kaum muda dapat mengendalikan 'rima' mereka melalui hip hop. Hiphop dekat dengan anak muda karena hip hop sendiri adalah genre musik yang sangat muda.

Anak muda sekarang, mereka tidak memilih dilahirkan di ghetto atau memiliki orang tua yang pecandu alkohol. Mereka membutuhkan media untuk bisa mengekspresikan apa yang sebenarnya mereka rasakan, seperti puisi.

Bagi saya, hip hop adalah puisi dalam musik. Saya juga berpendapat, Al-Qur'an juga merupakan bentuk puisi lain yang sangat indah.

Anda merupakan anggota grup hip hop Muslim AS, Native Deen. Bagaimana tanggapan dari publik AS tentang kiprah Native Deen?
Penggemar kami mayoritas Muslim, namun kami juga punya banyak penggemar non Muslim. Subhanallah, banyak di antara mereka yang memberikan komentar positif tentang karya kami.

Ada yang menulis, "Saya non Muslim, namun saya menghargai kalian yang bertutur tentang perdamaian." Itulah sebenarnya misi yang ingin kami sampaikan, bahwa Islam adalah perdamaian. Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian.

Apakah Native Deen menggunakan musik sebagai sarana dakwah? Bagaimana caranya?
Di Native Deen tentu saja kami menggunakan musik dan lirik sebagai sarana dakwah. Kami merasa senang saat melihat cara ini rupanya cukup efektif. Jika Anda melihat video klip lagu kami "Not Afraid To Stand Alone" di YouTube, ada banyak sekali komentar yang menunjukkan hal itu.

Ada yang menulis, "Saya seorang Muslim dan sebelum melihat video ini saya tidak tahu betapa beruntungnya saya selama ini, dan kini saya rajin salat lima waktu."

Saya tak menampik penggunaan musik sebagai sarana dakwah juga mengundang perdebatan. Beberapa orang masih memeprdebatkan status halal atau haramnya musik, namun saya rasa itu wajar.

Dalam bermusik, selalu ada tujuan. Bukan musiknya yang membuat halal atau haram, namun tujuan di balik itu.

 Tariq Snare, Musisi asal Amerika Serikat

Tahun lalu Native Deen berkunjung ke Indonesia. Bagaimana Anda menilai sambutan publik Indonesia?
Sambutan publik Indonesia luar biasa! Mereka sangat mencintai Native Deen. Mereka menunjukkan antusiasme dan cinta yang luar biasa besar untuk kami. Setelah kami tampil, mereka selalu meninggalkan komentar dalam situs kami dan berkata, "Datanglah ke Indonesia!".

Kebanyakan pemberi komentar mengatakan, mereka berkata menyukai penampilan kami di sebuah acara musik khusus anak muda. Hal yang sama juga terjadi di Malaysia. Mereka selalu minta kami untuk kembali lagi.

Bagaimana Anda melihat perkembangan hip hop di Indonesia?
Saya merasa terkejut dan terkesan melihat hiphop di Indonesia. Saya merasa beruntung dapat bekerjasama dengan para musisi lokal yang semuanya hebat-hebat.

Contohnya saja Gomez, menurut saya dia hebat sekali. Dia musisi hiphop, namun bisa mengawinkan musik itu dengan jazz sebagai bentuk tribute. Dia tahu tentang jazz dan musisi-musisi legendarisnya.

Pada saat yang sama, selain jazz dan hiphop, dia juga mengenal musik tradisional. Ini luar biasa.

Anda seorang Muslim. Bagaimana rasanya jadi Muslim di AS dan apa tantangannya?
Saya Muslim, Alhamdulillah. Namun satu hal yang perlu Anda tahu, saya berbeda dengan anggota Native Deen lainnya. Mereka terlahir dan besar sebagai Muslim, sementara saya baru menjadi Muslim justru setelah 9/11. Saya mengucap syahadat pada 2003, jadi sudah hampir 9 tahun.

Di kampung halaman saya di Brooklyn, New York, kepercayaan yang dianut penduduknya beragam. Meskipun demikian, kami bisa hidup berdampingan dengan damai.

Lingkungan saya dekat dengan pemukiman Yahudi Ortodoks, namun dari rumah saya bisa terdengar adzan yang disuarakan dari masjid At-Taqwa yang ada di ujung satunya. Masjid ini dipimpin oleh seorang ulama hebat yang terkenal karena gigih melawan ketidakadilan.

Itulah faktanya, kami bisa hidup berdampingan. Anda tinggal di lingkungan itu sebagai Muslim, bukan berarti Anda mendapatkan perlakuan buruk seperti diteriaki atau dilempari.

Pemeluk Islam di lingkungan saya termasuk minoritas. Di sekolah, para siswi Muslim kebanyakan memakai hijab, dan mereka tidak diminta melepaskan jilbabnya.

Isu penerimaan Muslim di AS inilah yang juga kami terjemahkan dalam salah satu Native Deen, "Not Afraid To Stand Alone." Di situ terdapat isu hijab atau jilbab, sekolah negeri, dan tempat kerja.

Dalam video klipnya, kami menggambarkan perjuangan seorang wanita yang baru menjadi Muslim, bagaimana ia bertahan mengenakan hijab walau disuruh melepas, dan bagaimana dia tetap mendapatkan pekerjaan meskipun bertahan dengan keputusannya.

Sulitkah menjadi Muslim di negeri Anda?
Menjadi Muslim di AS memang tidak mudah, namun tidak semengerikan yang digambarkan media massa. Pasca Tragedi 9/11, Islam mendapat perhatian yang besar.

Namun, setiap orang berhak memiliki pendapat sendiri. Seringkali pemberitaan media tentang Muslim terlalu dilebih-lebihkan, dan mereka hanya menyorot sisi buruknya saja. Namun saya akui, kehidupan saya setelah menjadi Muslim lebih bahagia.

Kadang jika sedang berkumpul dengan teman-teman sesama musisi, dengan bercanda mereka mengatakan jika saya sekarang bermain drum untuk kelompok teroris Al-Qaeda. Saya tertawa saja, karena saya tahu mereka tidak serius.

Namun, saya juga sudah tidak bekerjasama lagi dengan beberapa musisi karena mereka masih sering tampil di klub, minum minuman beralkohol, dan mabuk. Dulunya saya juga berada di lingkungan seperti itu, namun kini lingkungan saya sudah lebih baik setelah mengucap kalimat syahadat.

Jika sedang berkumpul, saya masih sering ditawari untuk minum, namun kini saya menolak. Saya bahagia dan bersyukur sudah tidak menjadi seperti itu lagi, alhamdulillah. Hidup saya kini lebih baik, dan saya sangat bersyukur untuk itu.

http://media.vivanews.com/images/2012/02/15/143878_tariq-snare--musisi-asal-amerika-serikat.jpg

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar