Menguak Piramida di Gunung Padang

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2011/03/30/107955_situs-megalitikum-gunung-padang--cianjur--jawa-barat_300_225.jpg

VIVAnews—Di atas Gunung Padang, pipa itu lurus melesak masuk ke tanah. Lengking suara mesin bor bercampur desau angin melantun di perbukitan Cianjur, Jawa Barat, pada Jumat pekan lalu. Seorang lelaki tambun menyimak gerak pipa-pipa itu menembus tanah. Dia berkaca mata. Rambut peraknya berkibar di tiup angin.

Di ketinggian 900 meter itu, hujan baru saja reda. Pipa berdiameter 12,5 sentimeter itu baru diangkat.

Lelaki itu adalah Andang Bachtiar. Dia doktor geologi. Andang mengambil batu, dan material lain tersangkut di selongsong pipa. Benda-benda purba itu seperti siap menjawab teka-teki di perut Gunung Padang.

Hampir setahun lebih, atau sejak Andang dan kawan-kawannya terlibat di Tim Peneliti Katastrofi Purba, ada pertanyaan besar menggelayut: adakah peradaban tinggi tersembunyi di perut gunung itu?

Ini hari kesembilan mereka menembus tanah Gunung Padang. Andang memperhatikan hasil pengeboran. Di lehernya melingkar loupe, alat bantu melihat kandungan batuan. Dengan loupe, dia memperhatikan batu dan material berasal dari kedalaman 27 meter.

“Kami pernah menemukan pasir halus,” ujar Andang.

Pasir itu menurutnya bukan hasil bentukan alam. Sortirannya halus, dengan ukuran sama. “Seperti diayak,” ujarnya menambahkan. Artinya, pasir itu adalah hasil kerja manusia. Lalu, apa guna pasir di perut gunung itu?

Inilah yang mau dijawab. Gunung Padang adalah salah satu gunung diincar oleh tim itu. Gunung lainnya adalah Gunung Sadahurip, atau Gunung Putri di Garut, Jawa Barat. Sadahurip bentuknya sangat simetris, nyaris seperti piramida. Uniknya, hasil riset geolistrik di Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, menunjukkan struktur serupa dengan Gunung Padang. Ada lapisan batuan yang bukan buatan alam.

Seorang peneliti, Dr Danny Hilman, mengatakan hasil geolistrik dan georadar itu yang membuat mereka tertegun. “Dari hasil foto, dan juga georadar, lapisan batuan itu penuh anomali,” ujar Danny, yang ikut di lokasi pengeboran bersama Andang.

Itu sebabnya, untuk membuktikan hasil geolistrik dan georadar itu, dilakukan pengeboran di kedua gunung. Sampel pun diambil.

Sebagai awal, Gunung Padang menjadi proritas. Di gunung ini ada punden berundak, situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Dari hasil pengeboran, sejumlah sampel tanah dan materi lain kemudian disodet, dan dimasukkan ke plastik bening, untuk penelitian carbon dating.

Hasilnya mencengangkan. Batuan di dalam gunung itu bukan batuan biasa. “Itu man-made, buatan manusia,” ujar Hilman. Hasil pengujian carbon dating, menyatakan kemungkinan batuan di sana berusia 4.700 tahun Sebelum Masehi.

Danny yakin batuan itu bukan karena alam. “Bahkan sampai di kedalaman 25 meter, ini man-made (buatan manusia)," ujar Danny.

Tak hanya itu. Susunan bangunan batu di dalam gunung itu, kata Danny, diduga sudah mengenal teknologi perekat dalam konstruksi bangunan. "Ini semacam semen purba," ujar Danny, memperlihatkan sebuah lapisan terletak di antara susunan batu.

Andang juga menambahkan tentang pasir yang dia temukan itu. “Bisa jadi pasir ini adalah teknologi tahan gempa. Mungkin ada bekas yang masih bisa dipelajari," ujarnya.

Menurut Danny, di Gunung Padang, sudah hampir dua per tiga bagian gunung itu diambil sampelnya. Hasilnya persis seperti uji geolistrik dan georadar yang dilakukan sebelumnya. Ada semacam struktur bangunan di dalam gunung itu. “Dengan dua per tiga bukit ini buatan manusia, berarti teknologi konstruksi nenek moyang sudah luar biasa,” ujar Danny.

Bukan berburu piramida

Situs Gunung Padang bukanlah temuan arkeologi baru. Peneliti Belanda N.J Krom pernah menulis soal punden berundak ini pada 1914. Selanjutnya, R.P. Soejono menjadi peneliti Indonesia pertama meneliti situs ini pada 1982.

Gunung Padang baru menarik perhatian media setelah diteliti oleh Tim Bencana Katastrofi Purba, yang difasilitasi Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief. Ada pun Danny Hilman dan Andang Bachtiar adalah anggota tim ini.

Tim peneliti ini mulai disorot saat meneliti Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, yang diduga sebagian kalangan mengandung bangunan piramida di bawahnya.

Awalnya, soal dugaan piramida di Sadahurip itu pernah diungkap Yayasan Turangga Seta. Itu adalah lembaga yang peduli kegemilangan sejarah nenek moyang di masa lalu. Selain Sadahurip, Turangga Seta juga menyebut adanya piramida di Gunung Lalakon, Soreang, Bandung, Jawa Barat. (Baca juga SOROT 124 Berburu Piramida Nusantara).

Keraguan pun muncul. Apalagi, Turangga Seta dianggap memadukan unsur mistis dalam pencarian piramida, dengan istilah keren yang mereka pakai: parallel existence.

Bantahan tajam diungkap oleh ahli geologi, Sujatmiko. Di Bandung, dia mengatakan bentuk piramida dari Gunung Sadahurip adalah hasil alamiah. Sadahurip, kata Sujatmiko, adalah gunung jenis cumulo dome yang terbentuk dari aliran lava, batuan intrusif, dan piroklastik. Pro dan kontra pun kian ramai.

Danny Hilman tentu saja tersengat. Meskipun tak pernah mengatakan ada piramida secara eksplisit di Sadahurip, tapi Tim Katastrofi Purba memang pernah meneliti di gunung itu.

Tapi Danny mengatakan tujuan tim bukanlah mencari piramida. Mereka meneliti siklus bencana, yang terjadi di nusantara sejak masa lalu. Dalam penelitian itu, tim juga menelisik jejak peradaban lama yang musnah akibat bencana. Itu penting, kata Danny, agar pola mitigasi bencana dipahami. "Tim ini terbentuk, bukan dibentuk. Kami juga hanya difasilitasi dalam melakukan penelitian ini," ujar Danny Hilman.

Itu sebabnya, mereka menelisik dari Banda Aceh di ujung Sumatera, Batujaya di Karawang, dan Trowulan di Jawa Timur. Temuan sejumlah penelitian itu membuat para peneliti itu percaya ada peradaban tinggi di Indonesia di masa lalu. “Raflles pernah bilang, kerajaan di Sumatera dan Jawa lebih mundur dari pendahulunya,” ujar Danny, mengutip Sir Thomas Raffles (1781-1826), Gubernur Hindia Belanda di abad ke-19.

Lalu mengapa memilih Gunung Padang?

Gunung Padang, kata Danny, adalah 'kompleks bangunan' besar terletak di dekat patahan Cimandiri, sebuah patahan aktif. Sebagai bekas peradaban megalitikum, mereka ingin melihat adakah bencana purba menghancurkan peradaban di gunung itu. Pengeboran di Gunung Padang dilakukan setelah hasil survei geolistrik, geomagnet, dan georadar. Hasilnya: ada tanda-tanda tak alamiah di bawah permukaan Gunung Padang.

"Mungkin selama ini arkeolog meneliti berdasarkan 'what you see is what you get'. Tapi di geologi berbeda. Kami harus melakukan pengeboran agar mendapatkan apa yang tak terlihat di permukaan," kata Danny Hilman.

Andang Bachtiar mengatakan tak begitu peduli anggapan orang yang menyebut timnya mencari piramida. "Masih terlalu dini juga menyebut piramida," ujarnya, sambil terus mengamati materi terkandung dari hasil pengeboran.

Andang berharap penelitian lanjutan akan terus dilakukan di Gunung Padang. "Ini memang dari dana kami sendiri, karena itu hasilnya masih terbatas. Alat yang digunakan pun masih pinjaman, karena itu hanya bisa mengebor sampai kedalaman sekitar 25 meter," tutur peraih gelar Master of Science dari Geology Department, Colorado School of Mines di Amerika Serikat pada 1991 ini.

Struktur piramida?

Untuk menjernihkan pelbagai tudingan, Danny Hilman dan Andang Bachtiar mengungkap hasil penelitian Tim itu pada acara diskusi di Gedung Krida Bhakti, Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012. Di acara ini, keduanya memaparkan tujuan, metode, dan hasil penelitian awal mereka .

Dikatakan, hasil survei georadar, geolistrik dan geomagnet di Gunung Padang diketahui adanya struktur bangunan besar dan masif. Ini juga terbukti dengan pengeboran geologi. "Kami menemukan struktur batuan hingga kedalaman 20 meter. Ada seperti sesuatu yang dipangkas," kata Danny Hilman.

Andang Bachtiar mengatakan hal serupa, "Ini constructed. Dari kedalaman 18 meter ke atas, ini merupakan bangunan. Jadi bukan sesuatu yang natural." Di acara diskusi ini, tim kemudian menyorot teknologi konstruksi bangunan.

Sebelumnya, ada dugaan batu itu terbentuk secara alami dari proses vulkanik, yaitu columnar joint basalt. Tapi menurut Andang, dugaan itu gugur. Soalnya, columnar joint basalt tidak ditemukan di sekitar situs Gunung Padang.

Hal menarik lain dari penelitian tim itu adalah cara bangunan ini disusun. Dari temuan bebatuan yang menjadi pemisah Teras 1 dan Teras 2, terlihat ada bahan perekat menyambung bangunan. (Lihat Infografik). "Ini bukan pelapukan andesit, tapi semacam semen purba," Andang menambahkan.

Ada dugaan kuat, jika bangunan purba itu menerapkan semacam teknologi penahan gempa. Ini terlihat dari adanya lapisan buatan yang materinya adalah pasir. "Ini hasil ayakan sangat halus, dan jelas bukan terbentuk secara alami," jelas Andang. Pasir ditemukan dalam satu lapisan, di kedalaman 8 hingga 10 meter. "Ini seperti teknologi yang mampu menahan gempa".

Tim Bencana Katastrofi Purba kemudian menjelaskan hasil carbon dating yang dilakukan terhadap sisa akar tanaman dan sisa arang bekas pembakaran, yang didapat dari hasil pengeboran. Menurut Danny Hilman, hasil carbon dating memperlihatkan bahwa situs Gunung Padang berasal dari 6.700 tahun lalu. "Berarti sekitar tahun 4.700 Sebelum Masehi," tutur Danny.

Jika hasil carbon dating itu tepat, hasil ini terbilang menakjubkan. Artinya, di masa prasejarah, sudah dikenal teknologi bangunan maju di wilayah nusantara. "Ini seperti Machu Picchu, di Peru. Tapi ini berasal dari abad yang jauh lebih tua. Bisa jadi teknologi Machu Picchu juga berasal dari sini," kata Danny menambahkan. Machu Picchu diperkirakan berasal dari abad 14 atau 15.

Ilmuwan lain menyambut baik temuan Tim itu. Arkeolog Universitas Indonesia, Ali Akbar, misalnya, mengatakan perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat konteks hasil pengeboran dengan lapisan budayanya. "Ambil sampelnya di mana, kedalaman berapa ditemukan pasir itu. Apa ada hal serupa di titik lain. Ini perlu diketahui lagi untuk mengetahui konteks lapisan budaya dengan bangunannya," ujar Ali Akbar. "Sebaiknya dicek lagi di teras lain," lanjutnya.

Harta karun

Dugaan tentang struktur apa yang dikandung di Gunung Padang menarik didiskusikan. Ahli kompleksitas Hokky Situngkir, yang berbicara di seminar tersebut, menyebut adanya kemungkinan bentuk piramida kecil di Gunung Padang. Dengan metode kompleksitas, Hokky mencari dugaan keterkaitan Gunung Padang dengan situs megalitik lain.

Dari perspektif Arkeo-Geografi, Hokky mereka-reka suatu struktur piramida kecil yang dapat dicocokkan dengan lanskap geografis Gunung Gede. Struktur piramida ini sendiri sekarang terlihat reruntuhannya di Teras 1, yang ada di Gunung Padang.

Mengenai bentuk piramida, perdebatan masih mencuat: apakah Gunung Padang bukit buatan berbentuk piramida (piramidal), atau ia hanya struktur bangunan akibat kontur geografis gunung yang terbentuk secara alami.

Danny Hilman menyebut Gunung Padang adalah man-made hingga kedalaman 20 meter. Namun, kesimpulan ini dibuat dengan catatan pengeboran baru dilakukan hingga kedalaman sekitar 25 meter. Danny yakin bukit ini tak terbentuk alamiah. "Ada yang bilang ini gunung purba, tapi saya melihat tidak ada intrusi magma," ujar Danny.

Beda pendapat dengan Danny, geolog Sujatmiko mengatakan Gunung Padang adalah gunung purba yang terbentuk alami. "Itu gunung purba di bawahnya, dan bangunan memanfaatkan morfologi, karena mereka ingin di atas," ujar Sujatmiko. Sayangnya, Sujatmiko tak melakukan riset, hanya dari pengalamannya mengamati bentukan gunung. "Lagi pula, tak ada temuan piramida di nusantara selama ini," ujarnya.

Ahli geologi Awang Satyana membantah Sujatmiko. Dia mengatakan struktur punden berundak punya bentuk sama dengan piramida berjenjang atau step pyramid. "Piramida adalah bangunan yang semakin kecil mendekati puncak," jelas Awang. Dia mencontohkan Borobudur yang juga punya struktur piramida.

Arkeolog UI Ali Akbar juga mengatakan model piramida sudah dikenal sejak masa prasejarah di Indonesia. "Tapi bukan seperti di Mesir. Di sana kan bangunan di tanah datar yang ditumpuk ke atas," kata Ali Akbar. "Di Indonesia bentuknya seperti punden berundak yang biasa ambil lokasi di gunung alami. Sehingga batu yang dibutuhkan tidak sebanyak yang di Mesir. Jadi lebih memanfaatkan alam," jelasnya.

Heboh piramida ini juga menarik ahli asing, semisal genetikawan Stephen Oppenheimer dari Universitas Oxford, Inggris. Penuslis buku laris Eden in The East ini pernah mengatakan kawasan nusantara sebagai daerah peradaban tinggi di masa lalu (Lihat Wawancara Openheimmer).

Tapi soal piramida, dia mengatakan, perlu hati-hati. Soalnya, sulit membedakan struktur monumen hasil modifikasi manusia, dengan struktur geologis oleh alam. "Anda bisa menghabiskan waktu memburunya dan ternyata kemudian adalah gunung, jelas Anda akan mendapat malu," lanjut Oppenheimer saat diwawancara Arfi Bambani dari VIVAnews di Bali.

Seperti dijelaskan Andang dan Danny, mereka awalnya ingin mengetahui keterkaitan bencana purba dengan peradaban di masa lampau itu. “Ada siklus bencana di masa lalu yang tidak tercatat prasasti atau catatan kuno, dan ini menghancurkan suatu peradaban,” ujar Andang. “Kami ingin melihat kemajuan teknologi dan budaya, sehingga tak selalu mulai dari nol.”

Tapi tudingan ke Tim itu toh tak reda juga, termasuk mereka mengincar harta karun di situs purba. Apa kata Andang? "Kearifan dan ilmu dari masa lalu yang terpendam di gunung itu, itulah harta karun bagi kita," ujarnya.(np)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar