Bistik Galantin, Bistiknya Para Raja

Bookmark and Share
http://images.detik.com/content/2012/09/14/287/slkusumasarictt.jpg

Jakarta - Tidak hanya Selat Solo, Bistik Gelantin juga bisa dicicipi. Bistik klasik yang diadaptasi dari kuliner Belanda tempo doeloe ini tidak hanya enak, tapi juga unik. Hmm.. tak ada salahnya mencoba sajian enak resto ini di akhir pekan esok hari.

Saat seorang teman mengajak saya untuk makan siang di bilangan Kebayoran Baru, saya tak kuasa menolaknya meskipun saat itu saya belum tahu resto apa yang akan kami tuju. Tidak lama setelah melewati Hemma (resto Belanda) mobilpun berbelok dan langsung parkir di depan sebuah rumah makan yang dari luar tidak terlalu nampak istimewa. Sebuah banner besar bertuliskan 'Kusuma Sari Resto & Catering' terpampang jelas di bagian muka.

Sebuah pintu kayu besar nampak kuno menyambut kami. Jejeran bangku kayu tertata rapi, tidak banyak ornamen terlihat di sudut ruangan untuk mempercantik tempat ini. Hanya beberapa potongan artikel dan foto yang tampak kuno terpajang di beberapa dindingnya. Cermin dipasang di sisi kiri dan kanan ruangan sehingga terlihat memperbesar ruangan.

Seorang pelayan datang membawakan buku menu. Hampir semua hidangan yang ada di dalam daftar menu adalah masakan Jawa, khususnya daerah Solo. Sebut saja, nasi kimlo, selat Solo, tahu telur, nasi langgi, mi goreng Jawa, nasi liwet, dan bistik. Menu Barat juga ada, seperti steak, beef wiener schnitzel, dan beef gordon bleu.

Ah, sejak pertama melihat menu mata saya langsung tertarik dengan nasi liwet khas Solo. Sayangnya, menu ini hanya hadir di saat akhir pekan saja. Mau tak mau saya memilih menu lainnya. Selat Solo dan juga bistik galantine yang klasik sebagai gantinya.

Kami memesan kedua menu ini tanpa nasi, karena biasanya bistik dan juga selat Solo disajikan bersama dengan kentang. Jadi cukup mengenyangkan menggantikan nasi. Selat Solo dan juga bistik galantine konon katanya merupakan hidangan keraton yang sudah cukup melegenda. Tidak semua rumah makan Solo menyajikan hidangan ini.

Selat Solo ini berisi dua buah potong daging has sapi yang dimasak cukup lama sehingga menghasilkan daging yang empuk. Kuahnya berwarna cokelat pekat dengan rasa yang manis-manis gurih. Pelengkapnya antara lain, potongan kentang goreng, keripik kentang, buncis rebus, telur rebus, irisan tomat, daun selada, dan juga acar timun yang dipotong halus memberikan aksen asam-asam yang segar.

Berbeda dengan selat Solo, bistik galantine tampil sangat meriah. Potongan wortel, telur, tomat dan kentang yang digoreng memberikan aksen warna yang cantik. Kacang polong juga diberikan di sisi lainnya. Bistik galantine ini mendapatkan pengaruh budaya Belanda yang cukup kental.

Bistik ini secara tradisional biasa disajikan untuk para raja dan juga tamu istimewa kerajaan lainnya. Potongan daging cincang, sosis, roti, dan telur dicampur menjadi sebuah adonan yang kemudian dibentuk, dikukus lalu digoreng dengan margarin.

Sausnya berwarna oranye kemerahan yang mencolok, jejak gerusan lada hitam terlihat masih kasar. Rasa sausnya gurih-gurih pedas dari lada hitamnya. Lamat-lamat tertinggal jejak manis yang enak plus aroma pala yang wangi. Dicampur bersama dengan daging bistiknya jadi semakin enak.

Oya, bistik galantin ini juga diberikan saus mustard sebagai pelengkap. Bedanya, saus mustard pada bistik galantin ini dicampur dengan sedikit gula. Sehingga rasanya asam-asam manis. Enak!

Meskipun tidak menggunakan nasi, tapi perut kami cukup dibuat kenyang oleh kedua menu tersebut. Segelas teh poci gula batu yang hangat membersihkan jejak bistik ditenggorokan, segar! Untuk kedua menu klasik khas Solo ini saya tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp 25.000 saja saya sudah bisa menikmatinya.
sumber : http://food.detik.com/read/2010/12/17/155225/1527377/287/bistik-galantin-bistiknya-para-raja?dthlutama

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar