
TRIBUNNEWS.COM, TEBINGTINGGI — Warga Desa Ulakdabuk, Kecamatan Talangpadang, Kabupaten Empatlawang, Sumsel mendadak heboh dengan ditemukannya goa di desa setempat, Kamis (12/1).
Belum dapat dipastikan apakah gua tersebut peninggalan masa prasejarah atau masa perang. Namun diduga kuat, gua itu merupakan benteng pertahanan.
Perangkat pemerintah desa setempat beserta warga langsung melakukan pembersihan. Setelah dilakukan penelusuran gua di sekitaran perbukitan berbatuan besar, sedikitnya didapati 3 ruang berbentuk kamar berukuran sekitar 4x4 meter di dalam gua tersebut.
Hebohnya penemuan inipun sudah tersiar ke masyarakat luas hingga pejabat tinggi di lingkungan Pemkab Empatlawang. Sebagian masyarakat percaya, namun ada juga yang tidak percaya. Oleh karena itu, untuk memastikan kebenarannya banyak masyarakat yang berduyun-duyun mendatangi lokasi.
”Memang ada gua di desa tersebut, karena memang ada cerita orang tua dahulu. Kemungkinan saja itu tempat orang zaman perang tersebut bersembunyi, karena memang dahulunya di Tebingtinggi ada benteng orang Belanda,” ujar Heron, warga Canggu.
Sripo yang ikut melakukan penelusuran bersama Camat Talangpadang, M Alhumaidi, Kades Ulakdabuk, S Mitra Jon beserta masyarakat, menelusuri dengan masuk melalui mulut gua berukuran kecil, seukuran badan orang dewasa ideal atau diameter sekitar 40 cm. Karena kondisi tersebut, kondisinya cukup sulit dilalui. Setidaknya, dari dua gua yang ditelusuri didapati 3 kamar persegi empat berukuran 4x4 meter dengan batu napal keras di sisi kiri-kanan serta bawah dan atas gua.
Belum ditemukan benda-benda pusaka ataupun peninggalan zaman prasejarah di lokasi tersebut. Melainkan, hanya beberapa akar kayu yang bergantungan yang masuk dari sela-sela perbatuan dan pintu gua, sehingga kondisi cukup seram. Bahkan, sebagian masyarakat yang berani masuk ke dalam gua tersebut.
Di permukaan batu-batu besar berukuran sebesar rumah berukuran sekitar 15x12 meter bahkan ada lebih yang berada di lahan seluas satu hektare tersebut didapati beberap ukiran berbentuk garis. Namun, sejauh ini belum bisa dipastikan apakah lokasi tersebut merupakan lokasi atau benteng zaman perang. Kemungkinan besar gua-gua tersebut tempat persembunyian zaman perang. Pasalnya antara satu gua dengan gua lainnya membentuk jalan kecil dan masuk ke bawah bebatuan besar tersebut. Bahkan satu gua didapati dua kamar yang disekat dinding batu dan kondisi sedikit bertingkat.
Menurut Kades Ulakdabuk, S Mitra Jon saat dibincangi di lokasi, selama ini memang ada cerita kalau di desa tersebut ada gua yang dinamakan gua putri. Namun, selama ini masyarakat hanya tau nama, tetapi tidak mengetahui dimana tempatnya.
Setelah mendapat beberapa petunjuk dari orang tua desa setempat, ia mengajak masyarakat melakukan pembersihan lokasi yang selama ini berupa hutan.
Meskipun lokasinya berada di ujung desa dan hanya berjarak sekitar 10 meter dari jalan provinsi penghubung Kecamatan Tebingtinggi-Talangpadang, tepatnya sekitar 16 Km dari pusat Kota Tebingtinggi.
”Kami melakukan pembersihan sejak tiga hari yang lalu, namun belum ditemukan gua-gua tersebut, meskipun sudah ada tanda-tanda adanya gua, namun kami belum berani menelusurinya. Ya, kondisinya yang masih hutan dan di dalam gua cukup gelap, sehingga khawatir adanya binatang buas penunggu gua tersebut,” katanya.
Dikatakannya, setelah cukup bersih, Kamis siang barulah ada warga yang memberanikan diri masuk ke dalam gua tersebut. Sehingga setelah ramai termasuk pemerintah kecamatan yang langsung meninjau ke lokasi setelah menerima informasi ini, barulah ditelusuri secara seksama. Itupun baru sebagian gua, karena kemungkinan masih banyak gua lainnya yang juga memiliki kamar seperti ini.
”Keadaan lahan seluas kurang lebih satu hektare yang pada umumnya berupa batuan besar dan berada di lereng perbukitan memungkinkan banyaknya gua. Ya, nanti kalau sudah ditebas ini kita akan bakar, sehingga kondisinya benar-benar bersih dan bisa dicari ataupun ditelusuri gua-gua lainnya,” katanya. (st2)
{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }
Posting Komentar