
TRIBUNNEWS.COM, MALANG – Arus radikalisasi agama nampaknya masih menjadi momok yang layak untuk diantisipasi hingga saat ini, karenanya pada momen Muktamar XI Jami’yyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabarah An Nahdliyyah di Ponpes Al Munawwariyah, Bululawang, Kabupaten Malang, para kyai dan ulama diminta untuk bisa menjadi salah satu benteng penjaga nasionalisme dan pluralisme.
Himbauan itu disampaikan Kamis (12/1/2012) pada ribuan peserta muktamar oleh Kapusbintal (Kepala Pusat Pembinaan Mental) TNI Brigjen Maksum Amin yang mewakili Menkopolhukam, Djoko Suyanto.
Maksum menegaskan, hingga saat ini radikalisasi agama masih merupakan ancaman serius yang berpotensi memecah belah kesatuan bangsa.
“Kyai dan ulama Thoriqoh sangat dibutuhkan bantuannya untuk menekan upaya radikalisasi agama, karena tanpa bantuan para Kyai, TNI pasti akan kesulitan,” kata Maksum.
Menanggapi pernyataan Maksum, para ulama dan kyai peserta muktamar sepakat untuk menjaga nasionalisme dan membendung arus radikalisasi di Indonesia. Namun demikian, beberapa dari mereka juga meminta agar TNI juga lebih intens membangun komitmen dengan para ulama untuk mencapai tujuan tersebut.
“Jadi TNI jangan sampai justru lebih intens membangun komitmen dengan kelompok-kelompok yang merugikan,” kata seorang peserta dari Nusa Tenggara Barat.
{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }
Posting Komentar