Survey OPT di Pemalang

Bookmark and Share
Surveilance pengamatan keadaan lapang organisme pengganggu tumbuhan (OPT) padi di kab. Pemalang , dilaksanakan pada tanggal 1-3 Februari 2011. Surveilance pengamatan OPT tanaman padi ini berdasarkan pada: laporan tengah bulanan keadaan luas serangan OPT utama padi periode Januari I (1-15 Januari 2011) sebagai acuan/pegangan dalam menentukan daerah sasaran survey, hasil surveilance pada pengamatan keliling yang ditentukan secara purposive sampling. Tujuan dari surveilance ini untuk memantau perkembangan serangan OPT utama tanaman padi dan upaya-upaya pengendalian yang dilakukan.
Keadaan pertanaman dan serangan OPT di Pemalang :
Luas baku pertanaman padi di kabupaten pemalang mencapai luas 25.223 hektar yang tersebar di 14 kecamatan. Komposisi varietas yang ditanam meliputi ciherang (15.047 Ha), IR-64 (2621 Ha), HIbrida (102 Ha), mekongga (384 ha), ketan (7 ha), situbagendit (2634 ha), memberamo (84 ha), cimelati (93 ha), inpari (6 ha), merauke (5 ha), conde (784 ha), ciliwung (2200 ha), cisadane (716 ha), sintanur (50 ha), lokal (271 ha), dan lain-lain (28 ha).
Empat jenis OPT utama yang menyerang pertanaman padi terdiri dari wereng batang coklat (WBC) (631 ha) dengan intensitas serangan ringan sampai berat. Penggerek batang padi (PBP) (201 ha) serangan ringan sampai sedang. Tikus (271 ha) serangan ringan, Penyakit hawar daun bakteri/BLB/kresek (38 ha) serangan ringan sampai berat, dan penyakit tungro (40 ha) serangan ringan sampai sedang. (Sumber Data LPHP Pekalongan peride Januari I 2011).
Hasil surveilance lapangan (tgl 1-3 Februari 2011)
Varietas padi yang diamati di kabupaten Pemalang dominan varietas ciherang dengan kisaran umur tanaman 2-8 minggu setelah tanam (MST).
Populasi wereng batang coklat (WBC) yang paling tinggi ditemukan di 2 kecamatan yang disurvey meliputi kecamatan Pemalang dengan rata-rata populasi berkisara antara 72,8 s/d 428,2 ekor/rumpun (terdapat spot hopperburn), dan kecamatan Taman rata-rata populasi 5,90 s/d 212,1 ekor/rumpun.
Intensitas serangan PBP di kecamatan Pemalang berkisar antara 0,52 s/d 2,32 % yang tersebar di desa Pelutan, Danasari, Lawangrejo, dan Sewaka. Di kecamatan Taman berkisar antara 0,92 s/d 1,76 % tersebar di desa Benjaran, Cibelok dan Jebed Selatan.
Intensitas serangan penyakit hawar daun bakteri/BLB/krese di kecamatan Pemalang 6,3% pada tanaman umur 8 MST, hanya ditemukan di desa Lawangrejo.
Padat populasi musuh alami (OPMS) berkisar antara 0,3 s/d 0,87 ekor/rumpun, sedangkan musuh alami jenis Cyrtorinus sp, berkisar anatar 0,6 s/d 1,87 ekor/rumpun.
Potensi serangan OPT di kabupaten Pemalang.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan diperkirakan serangan WBC akan menyebar pada daerah dengan umur tanaman yang masih muda, khususnya pada daerah-daerah yang berdekatan dengan lokasi yang sudah terinfestasi wereng coklat, mengingat di kecamatan Pemalang masih terdapat pengolahan tanah, persemaian dan tanaman muda (1-3 MST) merupakan sebagai pemicu peningkatan populasi wereng batang coklat.
Saran rekomendasi
Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan petani dalam pengendalian wereng coklat, sehingga operasional pengendalian dapat dengan cepat dilakukan melalui pengamatan rutin, aplikasi pestisida berbahan aktif bufrofezin, untuk daerah lain yang padat populasi masih rendah gunakan agens hayati patogen serangga Beauveria bassiana atau Metharrhizium anisopliae.
Penuluhan kepada petani tentang pemakaian pestisida yang baik dan benar sesuai dengan kaidah 6 tepat, yaitu tepat mutu dan jenis, dosis, konsentrasi, cara, waktu dan tepat sasaran.
Sosialisasikan teknologi pengendalian ramah lingkungan menggunakan agens hayati.
Kerjasama antar petugas terkait (PPL dan POPT) agar selalu sinergis bahu-membahu mengendalikan wereng coklat, terutama dinas pertanian setempat agar cepat tanggap terhadap perkembangan WBC yang semakin meluas.
.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar