Maling Minyak di Indonesia Masih Banyak!

Bookmark and Share
http://images.detik.com/content/2012/05/05/1034/tetes-minyak-dalam.jpg
Jakarta -
Sudah bertahun-tahun minyak mentah yang diproduksi di Indonesia terus dicuri tangan-tangan jahil. Modusnya adalah dengan melubangi pipa-pipa produksi minyak.

Kepala Divisi Humas Sekuriti dan Formalitas BP Migas, Gde Pradnyana mengatakan kasus pencurian minyak di Indonesia sering sekali terjadi. Dari Januari sampai April 2012 saja tercatat ada 225 kali kasus pencurian minyak.

"Tahun ini saja sampai bulan April tercatat sebanyak 225 kasus pencurian minyak mentah terjadi, sedangkan sepanjang 2011 tercatat 420 kasus pencurian minyak mentah yang diproduksi kontraktor kontrak kerjasama," ujar Gde kepada detikFinance, Sabtu (5/5/2012).

Diungkapkan Gde, kasus pencurian tersebut banyak terjadi di jalur-jalur pipa distribusi minyak mentah di daerah Tempino kabupaten Batanghari, Jambi sampai di daerah Plaju, Sumatera.

"Modus yang umum dilakukan para pencuri minyak tersebut yakni dengan sengaja melubangi pipa minyak lalu mentransfernya ke drum-drum lalu dibawa kabur," jelas Pradnyana.

Gde mengatakan, perusahaan minyak yang sering melaporkan terjadinya pencurian minyak antara lain, Pertamina EP, Medco E&P (Rimau), ConocoPhillips (Grissik), dan UBEP Jambi. "Kehilangan minyak yang tercatat di 2011 sekitar 3.000 barel, tapi kami yakin jumlahnya jauh lebih besar dari angka itu," tegas Gde.

Sebelumnya kasus pencurian minyak pernah diungkapkan Direktur Pengendali Operasi BP Migas Rudi Rubiandini mengungkapkan sumur-sumur minyak di Sumatera Selatan tiap hari minyak mentahnya dicuri.

"Sedikit sih yang dicuri antara 3-5 barel atau sekitar 3-4 drum, tapi yang mencuri banyak, ratusan dan itu terjadi setiap hari," kata Rudi.

Diungkapkan Rudi, praktik pencurian ini sudah berlangsung sejak lama, modusnya antara lain menempelkan pipi minyak dari offshore dan menyalurkan minyak mentah yang keluar ke 'dapur' si pencuri.
sumber : finance.detik.com

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar