Inggris Kembali Derita Resesi

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2012/04/11/150790_pm-inggris-david-cameron_300_225.jpg
VIVAnews - Ekonomi Inggris kembali mengalami resesi untuk kali kedua sejak krisis keuangan 2008-2009, demikian menurut statistik terkini yang terungkap hari ini. Perkembangan itu kian menekan pemerintahan koalisi Partai Konservatif dan Partai Liberal Demokrat, yang sedang berjuang memulihkan kepercayaan publik.

Kantor Statistik Nasional, seperti dikutip Reuters, mengungkapkan bahwa tingkat produk domestik bruto (GDP) Inggris turun 0,2 persen di triwulan pertama 2012. Sebelumnya, pada triwulan keempat 2011, ekonomi Inggris berkontraksi sebesar 0,3 persen. Menurut logika ekonomi, suatu negara mengalami resesi saat mengalami pertumbuhan negatif dalam dua triwulan berturut-turut.

Pertumbuhan ekonomi negatif dalam tiga bulan terakhir itu sama sekali melenceng dari prakiraan kalangan pengamat, yang justru yakin bakal tumbuh positif sebesar 0,1 persen. Penurunan ini terkait dengan kemerosotan terbesar di sektor konstruksi dalam kurun tiga tahun. Sektor jasa dan industri pun masih belum pulih.

Padahal pemerintahan PM David Cameron sangat berharap bisa menyaksikan sedikit pertumbuhan ekonomi bagi Inggris di awal tahun. Pertumbuhan ini penting demi mengatasi besarnya defisit anggaran dalam lima tahun ke depan. Namun, harapan ini masih sulit terwujud saat para mitra dagang Inggris di zona euro juga tengah menderita resesi.

Ekonomi Inggris berkontraksi sebesar 7,1 persen selama resesi 2008-2009 dan sejak saat itu masih belum pulih ke tingkat pra-krisis. Namun pemerintah Inggris masih harus menghadapi dampak krisis utang zona euro, pemangkasan anggaran, inflasi tinggi, dan terganggunya sektor perbankan.

"Butuh waktu lebih lama dari yang diharapkan banyak orang agar pulih dari krisis utang terbesar dalam sejarah," kata Menteri Keuangan George Osborne setelah muncul statistik terbaru.

"Satu hal yang membuat situasi makin buruk adalah pupusnya rencana kami sebelumnya dan terpaksa harus kembali meminjam dan lebih banyak utang," lanjut Osborne. (sj)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar