Hakim Cabut SP3 Pelecehan Seks BPN

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/05/14/70607_ilustrasi_keputusan_pengadilan_300_225.jpg
VIVAnews - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membatalkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus pelecehan seks yang diduga dilakukan GN, pejabat Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI. Pengadilan pun meminta agar kepolisian membuka kembali kasus ini.

"Mengabulkan permohonan pemohon untuk sebagian, menyatakan SP3 kasus pelecehan seksual yang dikeluarkan Polda Metro Jaya adalah tidak sah menurut hukum," kata Ketua Majelis Hakim, Aksir, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin 2 April 2012.

"Memerintahkan Direktur Reserse Polda Metro Jaya atau penyidik untuk membuka kembali penyidikan, dan membebankan beban perkara kepada pemohon," lanjutnya.

Dengan adanya putusan ini, kuasa hukum pemohon, Santi Dhewi mengapresiasi keputusan hakim atas kasus pelecehan seksual ini. "Alhamdulillah perjuangan untuk melawan anti kekerasan seksual ada jalannya. Kami ucapkan terima kasih karena kasus pelecehan seks ada perhatian khusus dari hakim," ujarnya.

Santi mengatakan kemenangan ini bukan hanya untuk kliennya, NH, melainkan untuk dua korban pelecehan lainnya. Otomatis, penyidikan kembali dibuka untuk semua korban GN. "Kondisi salah satu korban, NH, sangat trauma, sudah akan mengundurkan diri dari BPN. Ketiga korban masih jalani proses pemulihan traumatik dari LBH APIK," tuturnya.

Menurut Santi, proses penyidikan kasus ini harus dibuka kembali karena sudah terbukti ada bukti petunjuk. Di antaranya bukti surat elektronik yang dikirimkan pelaku kepada korbannya berupa permintaan maaf.

"Ada juga bukti video, rekaman suara, itu sebenarnya pelaku sudah mengaku tapi kenapa penyidik tidak mengetahuinya," kata dia.

Sementara itu, kuasa hukum Polda Metro Jaya, Amin, mengatakan masih akan berkoordinasi untuk memutuskan akan banding atau tidak. "Kami belum bisa menjawab. Kami pelajari dulu. Baru ambil keputusan."

"Tapi kan tadi hakim bilang, elektronik tidak bisa jadi alat bukti hanya petunjuk adanya kesesuaian," tegasnya.

Dengan pertimbangan hakim ini, Amin mengaku mendapatkan salah satu alasan pengajuan banding, yakni pada saat pihaknya hendak mengambil barang bukti, korban tak bersedia memberikan.

"Sehingga keasliannya pun kita tidak tahu. Laptop pelaku sudah kami ambil. Tapi hasilnya belum bisa didapat karena yang menerima email (BlackBerry) belum bisa didapat," ujarnya. (adi)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar