Glaukoma Bisa Menurun dalam Keluarga

Bookmark and Share
http://images.detik.com/content/2012/05/05/763/glaukomadlm.jpg 
Jakarta, Salah satu gangguan mata yang bisa menyebabkan kebutaan adalah glaukoma. Ternyata gangguan ini bisa menurun di dalam keluarga sehingga meningkatkan risiko terkena glaukoma.

"Faktor turunan ada, karena salah satu faktor risiko glaukoma adalah riwayat dalam keluarga," ujar Dr Amyta Miranty, SpM dalam acara seminar 'Jangan biarkan hidupmu gelap akibat glaukoma' di RS Mata AINI, Jakarta, Sabtu (5/5/2012).

Dr Amyta menuturkan misalkan ada saudara kandung yang terkena glaukoma maka risikonya 9 kali lebih besar, tapi jika orangtua yang terkena glaukoma maka risikonya 5 kali lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak punya riwayat dalam keluarga.

Selain faktor turunan diketahui ada beberapa hal lain yang menjadi faktor risiko terjadinya glaukoma yaitu:
1. Tekanan mata tinggi, lebih dari 21 mmHg

2. Gangguan vaskuler (pembuluh darah) misalnya hipertensi, diabetes melitus, migrain, hiperlipidemia.

3. Miopi atau hipermetropi

4. Trauma

5. Gangguan pada mata seperti katarak atau masalah pada struktur mata

6. Usia lanjut terutama di atas 60 tahun.

Glaukoma telah lama dikenal bisa merusak saraf penglihatan secara permanen dengan mengakibatkan fungsi mata terganggu dan bisa menyebabkan kebutaan. Penyebab utamanya adalah tekanan mata yang terlalu tinggi.

"Glaukoma sudah ditemukan 500 tahun sebelum masehi. Jika tekanannya tinggi warna kornea akan kehijauan-hijauan," ujar Dr Srinagar M Adrjo, SpM.

Dr Srinagar menuturkan ada beberapa jenis glaukoma yaitu:

1. Glaukoma primer yang merupakan bakat dan biasanya mengenai kedua mata sekaligus. Sebaiknya lakukan pemeriksaan pada keluarga dekat.

2. Glaukoma sekunder yang terjadi setelah ada sebab yang mendahului dan biasanya mengenai 1 mata.

3. Glaukoma kronik biasanya mata terlihat normal, jadi kadang tidak diketahui kalau tidak diperiksa.

4. Glaukoma akut yang ditandai dengan mata merah, kornea kelabu, pupil lebar, sakit kepala hebat, muntah-muntah.

5. Glaukoma kongenital yang ditandai bola mata besar dan kornea kelabu.

Sementara itu Dr Amyta menjelaskan untuk mendignosis glaukoma ini menggunakan pemeriksaan TOP (Tonometri, Oftalmoskop dan Perimetri). Tonometri untuk mengukur tekanan bola mata, oftalmoskop untuk melihat papil N II dan retina, sedangkan perimeter untuk mengetahui luas lapang pandang.

"Jika memiliki faktor risiko sebaiknya lakukan pemeriksaan, tapi kalau tidak ada glaukoma lakukan pemeriksaan 1-2 tahun sekali," ujar Dr Amyta.

sumber : health.detik.com

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar