#SahelNow, Selamatkan 1 Juta Anak Kelaparan!

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2012/04/04/149982_badai-pasir-di-wilayah-sahel--niger-_300_225.JPG

VIVAnews - Malapetaka kelaparan dan kekurangan gizi kembali muncul di Afrika. Kali ini terjadi di kawasan Sahel yang, ibarat sabuk, membentang dari ujung timur hingga ujung barat di bagian tengah benua hitam itu.

Dulu dikenal sebagai tempat pertanian yang subur, Sahel kini tak ubahnya seperti wilayah terkutuk. Wilayahnya kini tandus, jutaan jiwa manusia kelaparan dan kekurangan gizi, dan lokasi itu menjadi medan pertempuran kelompok-kelompok pemberontak di sejumlah negara.

Lembaga-lembaga internasional, baik yang berkait dengan negara maupun yang swadaya masyarakat, terpaksa turun tangan. Mereka pun berseru kepada dunia agar segera membantu, mengingat situasi di Sahel sudah mendesak ditangani.

United Nations Children's Fund (UNICEF), misalnya, meluncurkan kampanye kepedulian di berbagai media sosial untuk menyelamatkan anak-anak di tanah tandus Sahel, Afrika Utara. Akibat kekeringan dan kekurangan pangan di wilayah ini, sekitar 1 juta anak terancam jiwanya.

Diberitakan CNN, Selasa 3 April 2012, UNICEF menyerukan pada pengguna Facebook, Twitter dan media sosial lainnya untuk menuliskan tagar (hashtag) #SahelNow di status akun mereka. Langkah ini bertujuan menyuarakan pesan kepedulian ke seluruh dunia atas apa yang tengah terjadi di Sahel.

"Kekeringan yang parah dan lama di gurun ini, berarti satu juta anak bisa mati akibat malnutrisi, kita bisa menyelamatkan mereka jika bertindak sekarang," tulis UNICEF.

Sahel adalah wilayah sabuk kering dengan musim kemarau panjang yang terbentang di Afrika dekat gurun Sahara. Sahel melintasi delapan negara, dari Senegal di Laut Atlantik hingga ke Chad di pertengahan benua, semuanya menderita kekeringan yang sama.

UNICEF mengatakan, kurangnya curah hujan tahun lalu menambah parah derita akibat kekeringan. Selain kekeringan, kemiskinan yang akut, tingginya harga pangan, dan konflik saudara, membuat lebih dari 10 juta orang di wilayah ini mati kelaparan.

"Warga berusaha bertahan dengan menjual barang-barang mereka, ternak dan sapi. Mereka bahkan tidak menyekolahkan anak mereka, untuk menghemat," kata David Gressly, direktur wilayah UNICEF.

UNICEF memerlukan sekitar US$120 juta (Rp1,09 triliun) untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang dan pendek di Sahel. Saat ini, dana yang terkumpul hanya sekitar US$30 juta (Rp274 miliar). "Kita punya teknologi dan pengetahuan untuk mengobati anak-anak yang menderita malnutrisi akut. Jika kita bertindak cepat, kita dapat menyembuhkan mereka dan mencegah kematian," kata Gressly lagi.

Kondisi ini turut membuat cemas petinggi PBB. "Kami sangat prihatin atas situasi yang terjadi di kawasan Sahel, di mana jutaan orang terkena dampak yang bertubi-tubi dari kekeringan, kemiskinan, dan naiknya harga pangan, bersamaan dengan turunnya kualitas lingkungan dan keterbelakangan yang parah. Semua itu menyebabkan krisis pangan dan gizi yang baru," kata Catherine Bragg, Asisten Sekjen PBB urusan Kemanusiaan, seperti yang dikutip harian The Guardian.

Menurut harian Inggris itu, Sahel dahulu kala termasuk dalam kawasan yang subur dan dikenal sebagai salah satu wilayah pertanian. Namun, dalam beberapa dekade terakhir berdasarkan rekaman data dari NASA, wilayah ini berubah menjadi kawasan tandus akibat eksploitasi pertanian dan sudah terlalu padat penduduk.

Sahel pun belakangan sering dilanda badai pasir yang dashyat sehingga wilayah itu sulit menjadi tempat bercocok tanam seperti dulu. Badai pasir itu terjadi rata-rata selama 100 hari dalam setahun.

Medan konflik

Bagi kalangan pengamat, buruknya krisis kelaparan di Sahel tidak lepas dari konflik yang berkepanjangan di sejumlah wilayah Afrika. Kudeta militer di Mali, pergolakan politik di Libya dan serangan teror yang tanpa henti di Nigeria menyebabkan hilangnya lahan penghidupan banyak jiwa.

Mereka harus meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri, namun tidak dibekali makanan dan minuman yang cukup. Mereka pun terjebak di lahan yang gersang. Belum lagi mereka harus mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok akibat berbagai situasi. Negara-negara tetangga yang menampung kehadiran pengungsi pun sudah kewalahan menghidupi rakyat masing-masing.

Kini menjadi medan pertempuran dari kalangan pemberontak etnis Tuareg di Mali, kalangan pemerintahan Barat pun menilai bahwa Sahel pun belakangan ini lebih sering dialiri senjata sejak tergulingnya rezim Muammar Khadafi di Libya dan menjadi basis gerakan militan yang terkait dengan al-Qaeda.

Maka, tidak ada yang bisa dilakukan bagi penduduk sipil di Sahel, selain lari menyelamatkan diri dari kontak senjata dan kekerasan. Menurut kelompok Action Against Hunger (AAH), dari jumlah keluarga yang menyelamatkan diri, sebanyak 20 persen memiliki sedikitnya satu orang anak yang menderita kekurangan gizi akut

"Mereka adalah para keluarga yang tergesa-gesa keluar dari zona kekerasan sehingga tidak punya akses ke produk-produk dasar seperti baju, selimut, dan peralatan memasak. Satu dari lima keluarga di sana memiliki sedikitnya seorang anak yang menderita malnutrisi sangat parah," kata pemimpin tim darurat AAH, Helen Valencia. "Konflik di kawasan utara telah memperparah situasi yang sudah rapuh itu," lanjut Valencia seperti dikutip The Guardian.

Sedikitnya 200 ribu orang diperkirakan mengungsi dari Mali menuju Niger dan Burkina Faso. Padahal dua negara terakhir itu sudah kerepotan memberi makan rakyat masing-masing. Kalangan pengamat memperkirakan bahwa situasi bisa bertambah parah setelah kaum pemberontak Mali merangsek ke kota-kota strategis setelah mendengar kabar bahwa pemerintahan yang dipilih secara sah lewat pemilu telah terguling lewat kudeta.

Selain ulah pemberontak Tuareg, muncul kabar bahwa para pekerja migran dari Niger dan Chad yang mencari nafkah di Libya diusir keluar dari negara itu setelah tergulingnya rezim Khadafi tahun lalu. Ini membuat para pekerja migran itu kehilangan mata pencaharian bagi sanak keluarga di kampung.

Bagi para keluarga di Niger dan Chad yang bergantung pada impor pangan dari Nigeria, situasi kali ini bertambah sulit. Pasalnya pemerintah Nigeria tengah menutup perbatasan demi mencegah serangan dari kelompok ekstremis Boko Haram, yang menggalang kekuatan di bagian utara Nigeria.

Tutupnya perbatasan membuat masyarakat di negara tetangga seperti Niger sulit mendapat pasokan bahan pangan dan hewan ternak. Maka, harga-harga pun melambung tinggi. Bagi banyak warga yang tidak mampu, situasi itu sangat menyulitkan mereka memenuhi kebutuhan pangan dan pemenuhan gizi yang cukup bagi anak-anak.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar