Mengingat Lagi Wallacea....

Bookmark and Share
http://assets.kompas.com/data/photo/2012/04/07/2008508620X310.jpg

KENDARI, KOMPAS.com - Seiring dengan kecenderungan perubahan global, perubahan habitat karena aktifitas manusia, ancaman kepunahan spesies dan mimpi buruk pergeseran nilai-nilai sosial, Universitas Haluoleo (Unhalu) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membangun Museum Wallacea. Pembangunan museum ini dimaksudkan untuk mengawetkan berbagai kehidupan dan kebudayaan dalam suatu wadah yang dikemas secara unik, dengan penuh nilai-nilai keilmuan dan sosial.

"Maka, museum ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan berbagai macam keanekaraganan kehidupan alam dan kebudayaan di sepanjang Garis Wallacea, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya.
-- Muzuni

Kepala Museum Wallacea, Muzuni, di Kendari, Sulawesi Tenggara, mengatakan pada masanya nanti Museum Wallacea dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat umum, ilmuwan dan profesional tentang kehidupan masyarakat dan kekayaan air di kawasan Garis Wallacea.

Wallacea atau sebuah wilayah yang terletak di antara dua benua, yakni Asia dan Australia, dikenal memiliki tingkat endemisitas tinggi dalam hal flora dan fauna, maupun sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Keunikan serta keanekaragaman hayati dan budaya yang ditemukan di Garis Wallacea menjadikan kawasan ini sangat menarik dikunjungi, termasuk lokasi ideal untuk melakukan penelitian.

Garis Wallacea diambil dari nama seorang Inggris, Alfred Russel Wallacea, yang memberikan hipotesa mengenai Wallacea saat dia berkunjung ke Hindia Timur pada awal abad-19 silam. Ia mengemukakan, Sulawesi merupakan pulau yang terletak tepat di tengah-tengah kawasan Wallacea. Diperkirakan, kawasan Wallacea melintasi kepulauan Melayu, antara Kalimantan dan Sulawesi, antara Bali (di Barat), dan Lombok (di timur), hingga kepulauan Raja Ampat di Papua.

"Maka, museum ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan berbagai macam keanekaraganan kehidupan alam dan kebudayaan di sepanjang Garis Wallacea, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya," kata Muzuni, di Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (6/4/2012).

Museum Wallacea menampilkan 230 foto dokumentasi kehidupan bawah laut kawasan ini. Museum ini nantinya juga dapat digunakan sebagai "markas besar" para ilmuwan berbagai bidang keilmuan, baik dari internal Unhalu, skala nasional, maupun Internasional.

Kepala Pusat Perikanan Kelautan Pesisir dan Pulau Kecil Museum Wallacea Unhalu, Baru Sadarun, mengatakan, kawasan Garis Wallacea memiliki kehidupan bawah laut sangat kaya. Kawasan ini merupakan titik konsentrasi terumbu karang di dunia. Sedikitnya, kata dia, lebih dari 500 jenis terumbu karang hidup di kawasan tersebut.

"Tidak hanya kuning, di sini ada juga sponge berwarna merah, padahal dalam film kartun sponge berwarna kuning," kata Sadarun.

Di museum ini juga dipajang beragam jenis terumbu karang, seperti Ctenactis Sp, Fungia Sp, Glaxea Sp, Platygyra Sp, dan Hydhopora Sp. Selain itu, banyak juga kerangka hewan khas kawasan ini, salah satunya adalah Anoa.

Seperti diberitakan, Museum Wallacea baru saja diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, Kamis (5/4/2012). Dengan mengambil lokasi di lantai 4 gedung Pascasarjana Unhalu, museum itu diharapkan mampu menjadi pionir dalam melestarikan dan dokumentasi kekayaan alam serta budaya nasional.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar