Layanan Kesehatan Jiwa Semakin Lemah

Bookmark and Share
Jakarta, Kompas - Dari 9.000 pusat kesehatan masyarakat di Indonesia, hanya 70 puskesmas yang memberikan akses layanan kesehatan jiwa. Padahal, pemahaman tentang kesehatan jiwa di masyarakat dan kesiapan puskesmas menjadi ujung tombak layanan kesehatan jiwa.

Tahun 1980-an, pemerintah mengadakan program pendidikan layanan kesehatan jiwa bagi 7.000 dokter dan perawat dari semua puskesmas di Indonesia. Namun, program itu tidak diteruskan.

”Jejaring pelayanan kesehatan jiwa dari puskesmas ke rumah sakit jiwa sekarang ini memang makin lemah,” kata Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Tun Kurniasih Bastaman seusai pembukaan pameran lukisan ”Hospital without Wall-Apresiasi Seni Perupa Orang dengan Masalah Kejiwaan” dalam rangkaian Jakarta Biennale Ke-14, Minggu (16/10), di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pameran yang diikuti 22 peserta dengan masalah kejiwaan ini dilaksanakan 16-30 Oktober 2011. Kegiatan diadakan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) dan Perhimpunan Jiwa Sehat bersama Dewan Kesenian Jakarta.

Menurut Tun, pelayanan kesehatan jiwa harus dimulai dari puskesmas. Itu sejalan dengan konsep hospital without wall (rumah sakit tanpa batas) yang juga digagas Bapak Psikiatri Indonesia Kusumanto Setyonegoro (1924-2008) pada 1980-an. Kusumanto selama 15 tahun menjabat Kepala Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan (1971-1986).

”Konsep hospital without wall bukan berarti menjadikan rumah sakit jiwa tak dibutuhkan. Dengan jejaring puskesmas dalam pelayanan kesehatan jiwa masyarakat, hal itu memudahkan pelayanan, di antaranya puskesmas memberikan rujukan ke rumah sakit jiwa,” kata Tun. Hal itu yang perlahan-lahan berkurang.

Menurut Didi Kusumanto, putra almarhum Kusumanto yang juga bergiat dalam industri obat untuk gangguan kejiwaan, Indonesia melupakan konsep kerja progresif yang dulu dikenalkan ayahnya. ”Konsep itu membawa Indonesia sebagai pusat kolaborasi kesehatan mental regional di Asia Pasifik,” kata dia.

Terapi seni

Minggu kemarin, pameran diisi acara melukis bersama oleh sekitar 100 orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) dari Jakarta dan beberapa kota lain. Menurut Ketua Umum KPSI Bagus Utomo, kegiatan itu merupakan terapi seni bagi ODMK sebagai salah satu wujud penerapan konsep rumah sakit tanpa dinding.

”Kami mengajak pasien atau orang dengan masalah kejiwaan meraih trilogi kenyamanan, yakni kenyamanan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat sekitar,” kata Bagus.

Minimnya pengetahuan dan layanan kesehatan jiwa, antara lain, menimbulkan dampak negatif. Perkiraan Kementerian Kesehatan tahun 2010, sebanyak 20.000 orang dengan gangguan kejiwaan dipasung. Padahal, ada respons yang lebih tepat dan manusiawi. (NAW)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar