Banjir Masih Mengancam, Jakarta Waspada

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2012/04/03/149862_banjir-di-komplek-ikpn-bintaro_300_225.jpg

VIVAnews - Banjir melanda Jakarta. Hujan lebat dengan tiupan angin kencang yang terjadi di Jakarta pada Senin 2 April 2012, telah membuat Kali Angke, Kali Krukut, Kali Pesanggrahan dan Kali Ciliwung, menguap.

Imbasnya, sebagian daratan di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Tangerang, terendam.

Banjir juga diakibatkan tingginya debit di bendungan Katulampa dan Batu Belah, Kabupaten Bogor. Hal itu berimbas pada meluapnya Kali Angke yang melintasi permukiman.

Di Jakarta Barat, banjir terjadi di Kelurahan Kedoya Selatan, Kebon Jeruk. Ketinggian air di wilayah ini mencapai 1,5 meter. Banyak jiwa harus mengungsi, mencari tempat yang lebih tinggi. Banjir juga merendam ruas jalan Kelapa Dua, dan Pos Pengumben, Kebon Jeruk. Akibatnya, kemacetan parah terjadi.

Genangan air setinggi 20-30 centimeter juga terjadi di kawasan Rawabuaya. Masih di kawasan Jakarta Barat. Kali Mookervart atau Kali Sekretaris yang berada di depan kantor Samsat, Daan Mogot menguap. Air pun menggenangi jalan. Luapan air terjadi lantaran debit air yang besar dari Katulampa, Bogor dan penyempitan kali selepas Pintu Air Angke Hulu menuju Cengkareng Drain dan Banjir Kanal Barat.

Di Jakarta Selatan, banjir terjadi di Kecamatan Pesanggarahan (Kelurahan Cipedak dan Kelurahan Ulujami). Di Kecamatan Kebayoran Baru (Kelurahan Petogogan). Di Kecamatan Pesanggrahan dan Kebayoran Baru terdapat 6 RW yang terendam dengan pengungsi 850 jiwa karena banjir mencapai 30-150 centimeter.

Lebih dari 500 kios pedagang di Pasar Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, terendam akibat luapan Kali Pesanggrahan. Ketinggian air yang mencapai 1 meter membuat pedagang harus mengevakuasi barang dagangan mereka ke tempat yang aman.

Luapan air Kali Pesanggrahan memang kerap menyebabkan kawasan pasar kebanjiran. Tapi banjir yang terjadi sejak Rabu tengah malam ini adalah yang paling parah.

Banjir di Jakarta Timur terjadi di Kecamatan Pasar Rebo (Kelurahan Kali Sari dan Kelurahan Cijantung). Dan Kecamatan Jatinegara, di wilayah Kelurahan Kampung Melayu.

Di Kampung Melayu, wilayah yang terkena banjir berada di RW 01, RW 02, RW 03, RW 04, RW 05, RW 07. Warga terdampak 1.068 KK dengan ketinggian genangan 20-100 cm.

Sementara itu, banjir di Tangerang diakibatkan luapan air Kali Angke. Akibatnya, akses Jalan KH Hasyim Asyari, Kota Tangerang, lumpuh total. Kendaraan menuju Jakarta maupun dari Ciledug menuju Cipondoh, Tangerang belum bisa melintas.

Dari pantuan VIVAnews, Rabu 4 April 2012 sore, tampak kendaraan yang nekat melewati genangan air di sekitar jembatan Ciledug Indah itu mogok di tengah jalan.

Jalan utama perumahan Ciledug Indah 1 dan Ciledug Indah 2 yang berada di bantaran kali itu terputus karena debit air kali Angke yang meluap ke jalan mencapai setinggi paha orang dewasa. Di perumahan Cileduk Indah 1 dan 2, air sudah mulai masuk dan merendam rumah milik warga.

7.000 Warga Jadi korban

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat ada 7.000 warga Ibukota yang menjadi korban banjir, sedangkan sebanyak 2.430 warga mengungsi.

"Sisanya ada yang sudah kembali ke rumah. Ada juga yang mengungsi di rumah tetangga atau saudaranya yang tidak banjir," kata Kepala BPBD DKI Jakarta, Arfan Arkili, di Balaikota DKI Jakarta, Rabu 4 April 2012.

Di wilayah Jakarta Selatan atau di kawasan Ulujami, ada 850 warga yang mengungsi di Masjid Al Mukaromah, Gedung Sasana Krida, Gedung SMP 267, Gedung SD Negeri 04 dan Gedung SD Negeri 05.

Kemudian wilayah Jakarta Timur, sebagian besar sudah surut sehingga hanya tersisa 50 penduduk di Kali Sari yang masih mengungsi di posko-posko banjir. Sementara di kawasan Cijantung, Kampung Melayu, Cililitan, Cawang dan Bidara Cina tidak ada pengungsi sama sekali.

Di wilayah Jakarta Barat, seperti di kawasan Kedoya Selatan, tercatat ada 150 pengungsi di Aula Kelurahan. Kemudian di kawasan Duri Kosambi, sebanyak 460 warga yang mengungsi di Masjid Baitul Khoir. Selanjutnya di kawasan Rawabuaya, sebanyak 770 pengungsi tinggal di Sentral Kaki Lima dan Masjid Baiturrakhman. "Cengkareng timur ada sekitar 150 pengungsi di Kantor Kelurahan dan Masjid Al Mukmin," paparnya.

Di beberapa wilayah di Jakarta, banjir memang sudah menjadi langganan. Apalagi, bagi warga yang bermukim di dekat kali. Sebut saja di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur. Warga di daerah itu mengaku, banjir yang terjadi sejak Senin kemarin, sudah biasa terjadi.

Endang, warga RT 03 mengaku sudah terbiasa dengan banjir. Meski telah diimbau oleh Ketua RT dan RW setempat untuk mengungsi bila kondisi air telah tinggi, Endang bersikukuh tidak akan meninggalkan rumah yang telah ia tempati sejak lahir. "Ini sih biasa, kami sudah tidak khawatir lagi," katanya saat ditemui kediamannya.

"Kalau cuma batas 1,5 meter masuk rumah sih kami belum mau ngungsi, kalau memang sudah benar-benar terendam barulah kami mau," ujar dia.

Hal senada diungkapkan Rian, warga Kampung Melayu. Meski air telah setinggi pinggang orang dewasa, dia dan kebanyakan warga sekitar enggan mengungsi. "Bagi kami, banjir setinggi ini kecil," ucapnya.

Biasanya, warga baru mengungsi jika ketinggian air sudah mencapai empat meter.

Jakarta Waspada

Tampaknya, warga Jakarta patut mewaspadai bencana banjir. Hujan dengan intensitas tinggi masih akan terjadi beberapa hari ke depan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang masih akan melanda Jakarta.

Kepala Sub Bidang Meteorologi BMKG, Harry Tirto Djatmiko menjelaskan, adanya pola tekanan rendah di Samudra Hindia Barat dan daerah Bengkulu menyebabkan konvergensi atau pertemuan masa udara.

Pertemuan udara itu menimbulkan pertumbuhan awan dan menyebabkan hujan di wilayah Jawa, terutama Jawa bagian tengah dan barat, serta Sumatera bagian selatan.

"Potensi curah hujan tinggi dimungkinkan lebih dari tiga hari ke depan, kata Harry Tirto kepada VIVAnews, Selasa, 3 April 2012.

Dia mengatakan, khusus wilayah di Jabodetabek, konsentrasi hujan akan berada pada bagian selatan dan barat. "Saat ini cuacanya masih transisi, potensi hujan lebih banyak antara siang dan malam hari."

Intensitas hujan tersebut, lanjut Harry, kemungkinan berlangsung lebih dari tiga jam. Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah rawan genangan diimbau untuk waspada. Sebab, curah hujan di bagian selatan, seperti daerah Bogor dan Depok intensitas hujannya diprediksi lebih tinggi. "Kalau wilayah selatan hujan, maka alirannya menuju ke utara. Waspada banjir kiriman," tegasnya.

Arfan menjelaskan, hujan lebat yang mengguyur Ibukota beberapa hari ini dipengaruhi oleh perubahan badai di negara lain. "Ada perubahan badai dari Cina yang menyebabkan hujan kemarin," ujarnya.

Namun, Arfan meminta warga Jakarta tidak panik dengan potensi banjir Ibukota. Sebab, banjir yang melanda Jakarta saat ini tidak bersifat spesifik. Karena wilayah yang terendam memang merupakan daerah langganan banjir dan berada di daerah cekungan.

Seperti di Jakarta Timur, pada wilayah Kampung Melayu, Bidaracina, dan Cawang. Di Jakarta Selatan, Ulujami, Bintaro, Petogogan, dan Bukit Duri. Serta di Jakarta Barat, pada wilayah Duri Kosambi dan Cengkareng.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, daerah-daerah yang terendam banjir saat ini diharapkan tetap meningkatkan kesiagaan. Banjir yang terjadi pada daerah-daerah tersebut disebabkan oleh sempitnya alur dan lebar sungai.

Saat ini lebar sungai hanya berkisar 5 meter, bahkan ada yang hanya 3 meter, padahal minimal idealnya 15 meter. "Tidak aneh jika daerah-daerah tersebut rentan banjir," katanya.


Katulampa siaga 3

Tak hanya intensitas hujan di Jakarta yang patut diwaspadai. Hujan di wilayah Bogor, Jawa Barat juga wajib diwaspadai berdampak banjir.

Hujan yang mengguyur wilayah Bogor, Jawa Barat, sejak siang hingga sore, Selasa 3 April 2012 membuat ketinggian air di Bendungan Katulampa meningkat drastis.

Berdasarkan pantauan petugas, air di bendungan ini telah berada di atas batas normal. Statusnya dinyatakan siaga tiga.

Menurut penjaga Bendungan Katulampa, Andi Sudirman, pada pukul 17.00 WIB, ketinggian air mencapai 140 centimeter. "Dengan volume air mencapai 2.460 kubik per detik," kata Andi. Untuk diketahui, ketinggian normal air di Bendungan Katulampa sekitar 60 centimeter.

Ia mengatakan, warga harus berhati-hati dengan kondisi ini. Sebab, diperkirakan debit air akan terus bertambah. Andi menambahkan, ketinggaian air di Bendungan Katulampa kali ini merupakan yang tertinggi sejak bulan Februari lalu. "Oleh karena itu, warga Jabodetabek yang berada di pinggir Sungai Ciliwung agar waspada kiriman air dari Katulampa," jelasnya.

Untuk menghadapi ancaman banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan posko pelayanan untuk korban banjir. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, posko pelayanan itu seperti, dapur umum dan pos kesehatan. Posko ini didirikan di sejumlah wilayah langganan banjir kiriman.

Mulai dari Rawajati, Kalibata, Pengadegan, Gang Arus Cawang, Bukitduri, Kampungbaru, Bidara Cina, dan Kampung Melayu, dan sejumlah wilayah di Jakarta Barat seperti Duri Kosambi, Rawabuaya, Green Garden, Cengkareng, dan Kedoya.

"Jakarta itu dialiri sungai-sungai besar yang menyebabkan banjir. Ini sebenarnya bukan tanggungjawab Pemprov DKI Jakarta sendiri, melainkan juga Kementerian PU," kata Fauzi Bowo di Jakarta, Rabu, 4 April 2012.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar