1,6 Juta Warga NTT Terancam Kelaparan Serius

Bookmark and Share
http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/11/26/80664_petani_sedang_menggarap_sawahnya_300_225.jpg

VIVAnews - Lebih dari 1,6 juta warga Nusa Tenggara Timur yang tersebar di 20 Kabupaten dilaporkan terancam kelaparan cukup serius menyusul adanya fenomena El Nino yang berdampak pada gagal tanam dan gagal panen.

Laporan kelaparan ini disampaikan Kepala Dinas Sosial NTT, Emanuel Kara.

“Warga yang terancam kelaparan tersebar di 481 desa yang tersebar di 201 kecamatan,” kata Emanuel di Kupang, Jumat 11 Juni 2010.

Menurutnya, hasil survei dan analisa lapangan yang dilakukan tim terpadu bentukan Gubernur NTT, Frans Leburaya menemukan lebih dari 1,6 juta warga yang sebagian berprofesi sebagai petani dan terdata sebagai keluarga miskin terancam kelaparan, karena tanaman pangan seperti jagung, padi, kacang-kacangan maupun umbi-umbian gagal panen.

“Kalaupun ada hasil panen, jumlahnya sangat sedikit dan hanya cukup untuk konsumsi beberapa saat,” katanya.

Berdasarkan laporan yang diterima dari tim terpadu, komoditas pangan yang gagal panen terdiri atas padi mencapai 25.205 hektar, jagung 61.171 hektar, kacang-kacangan 5.492 hektar dan umbi-umbian 2.526 hektar lebih.

“Total luas lahan tanaman pangan yang gagal panen mencapai 94.395 hektare lebih atau separuh dari total lahan garapan warga."

"Jumlah keluarga yang terancam krisis pangan sebanyak 333.018 kepala keluarga, dengan jumlah jiwa mencapai 1.624.457 orang,” katanya.

Sementara Jumlah penduduk NTT, sesuai data BPS tahun 2009 sebanyak 4,6 juta orang.

Gubernur NTT telah mengeluarkan keputusan untuk membentuk tim pengkaji yang terdiri dari instansi teknis seperti Dinas Sosial, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Koperasi, Kimpraswil dan instansi terkait lainnya.

“Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat menyiapkan beras sebanyak 9.100 ton dan Kementerian Sosial menyiapkan 10.000 sampai 15.000 ton beras untuk membantu warga yang benar-benar mengalami krisis pangan,” katanya.

Dua kabupaten dengan resiko rawan pangan paling kritis yakni Kabupaten Sumba Timur dan Rote Ndao. Di Rote Ndao, kekeringan terjadi merata di 78 desa di delapan kecamatan, sementara Sumba Timur kekeringan melanda 156 desa di 22 kecamatan.

“Khusus Rote Ndao lahan padi yang gagal panen mencapai hampir 7.000 hektar, sementara di Sumba Timur lahan jagung yang gagal panen hampir mencapai 20.000 hektar,” ujarnya. (umi)

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar