Pulang Dari RS, Darius Ditolak Keluarga

Bookmark and Share
http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/darius-yang-terlunta-lunta.jpg

TRIBUNNEWS.COM - ENAM bulan lalu, seorang warga memboyong seorang lelaki uzur bernama Darius (74) ke RSU Zainoel Abidin Banda Aceh karena penyakit yang dideritanya. Pihak rumah sakit menerima pasien penderita tumor itu dengan berbekal kartu keluarga (KK) atas nama Dartryan Darwis (65), penduduk Gampong Geuceu Kayee Jato, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh. Terakhir diketahui sang pasien adalah abang kandung dari Dartryan.

Setelah menyerahkan Darius ke pihak medis, si pengantar balik kanan. Sejak saat itu tak ada seorang pun pihak keluarga yang mendampingi Darius di rumah sakit. Perawat terpaksa mengambil alih semua urusan yang seharusnya menjadi tanggung jawab keluarga, seperti memandikan, membersihkan kotoran sampai memasang pampers. Singkat cerita, setelah enam bulan dalam penanganan medis, kondisi Darius semakin membaik setelah tim dokter melakukan kemoterapi tumor di lehernya. Dokter sudah merekomendasikan Darius pulang dan selanjutnya bisa berobat jalan.

“Karena masih memiliki keluarga, maka yang bersangkutan kami pulangkan. Selain kondisinya semakin membaik, beliau juga harus keluar karena pasien lain sudah antre untuk mendapatkan tempat tidur,” kata Humas RSUZA, Husaini.

Menurut Husaini, proses pemulangan Darius sengaja diberitahukan kepada pers, termasuk Serambi agar tidak muncul penafsiran negatif dari masyarakat terkait dengan kebijakan itu.

Maka, sekitar pukul 09.30 WIB, Jumat (2/3) berangkatlah Husaini bersama seorang rekannya ke Geuceu Kayee Jato untuk memastikan kebenaran data KK yang selama ini menjadi dokumen untuk Darius. Sesampai di Geuceu Kayee Jato, Husaini langsung menunjukkan KK itu kepada keuchik setempat, Faisal dan membenarkan pemegang KK itu adalah warganya.

Setelah ada pembenaran, Husaini langsung mengontak ke rumah sakit agar segera memulangkan Darius. Selanjutnya sekitar pukul 10.30 WIB, sebuah ambulans RSUZA tiba di depan Kantor Keuchik Geuceu Kayee Jato. Kemudian Pak Keuchik Faisal dan perangkat desa mengantar Darius yang terbaring di atas tempat tidur dorong dalam ambulans ke rumah Dartryan.

Sesampai di rumah itu, Keuchik Faisal berulang kali mengetuk pintu hingga keluarlah seorang perempuan yang tak lain adalah istri Dartryan. Di hadapan perangkat desa dan pihak rumah sakit dengan disaksikan wartawan, wanita tersebut terang-terangan mengatakan tak bisa menerima Darius.

“Bawa saja ke sana, ke rumah adiknya. Saya hanya iparnya, jangan diturunkan di sini. Kalau tidak, hubungi dulu suami saya,” kata wanita tersebut menyiratkan ketidaksenangan.

Penolakan oleh adik ipar yang diwarnai perdebatan dengan aparat desa berlangsung sekitar 10 menit sehingga mengundang perhatian tetangga. Selama terjadi perdebatan itu, Darius tetap terbaring tak berdaya di dalam ambulans.

Karena tak ada titik temu, akhirnya tim RSUZA menurunkan Darius dari ambulans dan meletakkannya di atas bangku panjang di teras rumah. Selanjutnya pihak rumah sakit bersama Pak Keuchik dan anggota rombongan yang lain meninggalkan rumah itu. Istri Dartryan masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu. Tinggallah Darius duduk seorang diri di bangku teras.

Masalah keluarga
Tak lama setelah Darius ditinggalkan di teras rumah, tiba-tiba Dartryan pulang. Saat ditanya wartawan tentang latar belakang abangnya, Dartryan menceritakan, sebenarnya abangnya itu masih punya istri dan lima anak, namun salah seorang anaknya meninggal saat tsunami.

Sebelum tsunami, Darius hidup bersama istri di rumahnya di Desa Lamlhom, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Rumah itu ikut hancur diterjang tsunami.

“Saya tidak tahu, apa masalah abang dengan istri dan anak-anaknya sehingga ia ditinggalkan. Tapi ia tak bercerai dengan istrinya, kemudian istrinya ikut anak-anak ke Jakarta, kecuali seorang di antaranya yang nomor dua berada di Sinabang,” cerita Dartryan.

Menurutnya, anak kedua Darius yang kini di Sinabang ikut istrinya sebagai PNS di sana. Sedangkan Darius, sejak pascatsunami hidup terlunta-lunta.

Sekitar enam bulan lalu, Darius diambil pihak Dinsos Aceh namun tidak bisa diterima di panti jompo karena kurang sehat. Maka, Darius pun dibawa ke RSUZA. “Saya hanya seorang pensiunan PNS. Saya bersama istri sudah tua. Saya akan berusaha mencari seorang perawat untuk menjaga abang kandung saya itu. Jika sudah sembuh nanti, saya akan memasukkan beliau ke panti jompo,” demikian pernyataan Dartryan.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar