Hitungan Pemerintah Soal Gula Matematis Gunakan Kalkulator

Bookmark and Share
http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/ilustrasi-gula-pasir.jpg

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA--Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen menegaskan produksi gula dalam negeri cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Apalagi, tegasnya, produksi gula tahun 2010 berlebih. Sehingga sebenarnya tidak diperlukan impor gula untuk memenuhi kebutuhan yang disebutkan pemerintah defisit.

Namun, mengapa berbeda dan dikatakan stok gula dalam negeri tidak cukup? Ketua Umum APTRI ini menegaskan itu terjadi karena pemerintah melakukan hitung-hitungan matematis tanpa melihat ke lapangan apa yang sebenarnya terjadi.

"Stok kita 2010 berlebih dan 2011 ini sebenarnya kenyataannya lebih dari stok matematis yang mereka katakan. Saya selalu mengatakan bahwa stok yang disampaikan adalah stok matematis, yang dihitung dengan kalkulator. Tidak dihitung dengan melihat fakta sebenarnya di lapangan," demikian ia menegaskan, saat ditemui Tribunnews.com, di Jakarta, Kemarin.

Dilanjutkannya, pemerintah selalu menghitung secara matematis 240 juta penduduk Indonesia semuanya murni benar-benar mengkonsumsi gula produksi dalam negeri.

Ia merinci, kalau stok gula dihitung secara matematis, maka kebutuhan gula untuk 240 juta penduduk dikalikan kebutuhan satu orang 1 bulan 1 kg. Maka terdapat kebutuhan konsumsi gula untuk 240 juta penduduk sebesar 2,6 juta ton.

Tapi kenyataannya, demikian ia menekankan, bahwa sebagian penduduk Indonesia, di sebagian Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, dan di daerah perbatasan di Sumatera mengkonsumsi gula ilegal dari Malaysia dan gula rafinasi yang seharusnya untuk industri.

"Apa ini 240 juta orang ini makan gula yang resmi semuanya. Di Kalimantan makan gula yang dari Malaysia. Kita tahu yang sebagian makan gula rafinasi. Seperti Bali, Sulawesi, Jadi apakah itu masih dihitung? Kan ngak," demikian ia menegaskan.

Ia tidak memungkiri bahwa produksi gula tahun ini merosot seperti dirilis dewan gula, yakni hanya mencapai 2,3 juta dari target 2,7 juta ton.

"Perhitungan produksi betul 2,3 juta. Tapi yang saya pertanyakan apakah penduduk Indonesia yang 240 juta itu makan atau minum dari gula kristal putih produksi dalam negeri semuanya?"

Karenanya, ia menolak jika pemerintah menerbitkan kebijakan impor gula.

Sebagaimana diketahui ribuan petani tebu menggelar demo di Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) siang ini (14/12/2011). Mereka menolak rencana impor 500.000 ton gula pada 2012.

Wakil Sekjen Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), M. Nur Khabsyin, menilai, alasan produksi gula turun sebagai alasan mengimpor gula tidak tepat. Karena sejatinya total pasokan gula dalam negeri mencapai 3,495 juta ton pada 2011.

Realisasi produksi gula pada 2011 sebesar 2,150 juta ton ditambah izin impor gula mentah sebesar 225.000 ton. Totalnya, pasar domestik mendapat pasokan 2,375 juta ton.

Namun, jumlah itu masih mendapat tambahan dari rembesan gula rafinasi sebesar 400.000 ton per tahun dan bekas gula selundupan dari empat pintu perbatasan yaitu Entikong Kalimantan Barat, Nunukan Kalimantan Timur, Kep. Riau, dan Aceh sekitar 720.000 ton.

"Rencana impor gula itu, secara psikologis akan berdampak pada penurunan harga gula. Apalagi, petani baru saja menyelesaikan musim giling tebu," kata Nur.

Sementara itu sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, sempat menyebut, produksi gula dalam negeri tahun ini diperkirakan 2,3 juta ton-2,4 juta ton. Angka itu menjadi patokan bahwa tahun depan pasar domestik masih kekurangan sekitar 300.000 ton-500.000 ton gula.

Sedangkan, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik, Natsir Mansyur, sebelumnya menyebut, patokan impor gula tahun depan merupakan selisih antara target produksi sebesar 2,7 juta ton dengan realisasi produksi sekitar 2,1 juta ton.

Namun, ia pesimistis dengan prediksi realisasi produksi gula 2,1 juta ton. Apalagi, stok dalam negeri yang seharusnya tersedia 1,2 juta ton pun disebut hanya terpenuhi 800.000 ton. Artinya, akan ada kekurangan gula yang cukup besar.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar