Barang Konsumsi dan Perbankan Bisa jadi Andalan Investasi

Bookmark and Share
http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Uang-Indonesia.jpg

TRIBUNNEWS.COM JAKARTA. Beberapa saat lagi, tahun 2011 berlalu. Sudah banyak kejadian tak terduga terkait ekonomi global yang menyebabkan terpangkasnya prediksi para analis mengenai tren ekonomi 2011. Tak terkecuali perekonomian Indonesia, yang pada awal tahun diprediksi Indeks Harga saham Gabungan (IHSG) bisa melesat mencapai 4.200 - 4.300. Tapi nyatanya, sampai 23 Desember , IHSG masih bergerak di level 3.800-an.

Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada memaparkan, jika diambil garis lurus dari posisi tertingginya di 4.193,56, dan posisi penurunan terendahnya di 3.269,54, terhitung IHSG sudah terpangkas 28,3%.

Kondisi yang tidak kondusif ini pun, tentu juga berimbas pada koreksi kinerja emiten, baik diukur dari kinerja saham mereka ataupun kinerja fundamentalnya. Pengamat Pasar Modal Jimmy Dimas Wahyu menilai, di tengah isu perlambatan ekonomi global, sektor yang paling bisa bertahan dan berkontribusi kepada pengangkatan IHSG adalah sektor consumer goods dan ritel.

"Dalam kondisi perekonomian global yang volatil, consumer goods atau sektor-sektor yang memberikan pemenuhan kebutuhan domestik masih bisa stabil. Belajar dari pengalaman, pada krisis keuangan 2008 di AS, sektor yang masih bisa memperoleh cuan adalah sektor konsumsi dan ritel," jelasnya.

Jika dilihat dari perkembangan pergerakan saham secara sektoral, di 2011 ini, sektor-sektor yang meraih tiga terbesar perolehan cuan (untung) adalah sektor aneka industri yang sampai 20 Desember 2011 (year to date) nilai sahamnya naik 31,52%. Disusul, sektor perdagangan yang naik 17,77%, dan sektor Consumer Goods yang nilai sahamnya sudah naik 17,61%.
Adapun, saham dari sektor aneka industri dengan cuan terbesar, yaitu saham Astra International Tbk (ASII). Sepanjang tahun ini, harga saham ASII sudah maju 31,08% hingga 20 Desember 2011. Sementara, dari kinerja fundamental, laba bersih kuartal ketiga ASII naik 30% dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi Rp 13,44 triliun.

Lanjut Jimmy, sektor yang tidak beruntung di tahun ini adalah saham sektor pertambangan yang kalkulasi sahamnya anjlok 24,64%, lalu sektor infrastruktur yang turun 16,63%, dan sektor perkebunan yang turun 8,83%.

"Sektor pertambangan yang sahamnya terkoreksi paling dalam adalah PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) sebesar 59,01%," urainya. Pada laporan keuangan di kuartal ketiga, DOID tercatat mengalami rugi bersih Rp 12 miliar, padahal di kuartal yang sama tahun sebelumnya masih mencatat untung Rp 350 miliar.

Consumer goods & perbankan bisa diandalkan

Jimmy bilang, investor boleh optimistis terhadap prospek perekonomian di 2012. Hanya saja di sisi lain, investor harus dapat mengantisipasi kemungkinan terburuk yang terjadi di perekonomian global, terutama yang berasal dari Eropa. "Kondisi terburuk Uni Eropa ada kemungkinan terjadi dan memuncak di tahun depan," prediksinya.

Analis saham dari PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyebut, jika terjadi perlambatan ekonomi di tahun depan, maka sektor yang terkena imbasnya tentu tetap pada sektor komoditas. Jimmy menambahkan, semua sektor yang merugi di tahun ini, kemungkinan akan mengalami penurunan saham dan kinerja yang lebih parah lagi di 2012.
Adapun, Jimmy maupun Wawan memperkirakan, untuk sektor yang diperkirakan bisa bertahan di tahun depan meski ekonomi melambat masih dari sektor consumer goods.

Wawan merekomendasikan PT Unilever Tbk (UNVR) untuk dikantongi nasabah konservatif sebagai bagian fortolionya. "Sampai kurtal ketiga saja Return On Equity (ROE) termasuk tinggi yaitu sebesar 91%," tuturnya. Return on Equity (ROE) merupakan salah alat utama investor yang paling sering digunakan dalam menilai suatu saham.
Dalam perhitungannya, secara umum ROE dihasilkan dari pembagian laba dengan ekuitas di periode tertentu. Semakin tinggi ROE, menandakan semakin tingginya kemampuan perusahaan menghasilkan laba (profitability), semakin tingginya efisiensi perusahaan dalam mengelola aset (assets management), juga menggambarkan utang yang dipakai dalam melakukan usaha (financial leverage).

Untuk pilihan kedua, Wawan dan Jimmy juga mengandalkan sektor perbankan menjadi pilihan portofolo untuk di 2012. Pasalnya, dengan suku bunga yang rendah, maka akan pengucuran kredit bank kepada masyarakat akan marak, sehingga menjadi keuntungan bagi sektor perbankan.

"Emiten yang menjadi pilihan di sektor perbankan antara lain, ada Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri (BMRI), Bank Central ASia (BBCA)," urai Wawan. Asal tau saja, ketiga Bank tersebut, di pertengahan Desember kemarin, mendapatkan kenaikan peringkat dari PT Fitch ratings Indonesia.

Sementara, Reza melihat, ada potensi kenaikan sebesar 35% pada sektor perbankan di 2012. Sedangkan untuk kinerja fundamentalnya, rata-rata emiten di sektor perbankan bisa mencetak kenaikan pendapatan dan laba bersih sekitar 18% - 20%.

Menurut Reza, saham di sektor perbankan sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi global. Diharapkan di tahun depan, krisis Uni Eropa bisa mendingin dan pemeringkat rating tidak lagi menurunkan peringkat utang perbankan Eropa. "Sentimen negatif dari perbankan global berpengaruh signifikan terhadap psikologi investor di pasar saham di domestik, sehingga sebaik apapun fundamental emiten perbankan, pasti tetap akan menggerus harga sahamnya," pungkas Reza.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar